Gas Flare, Sumber Energi yang terlupakan

DSC_0048_2

Tidak banyak orang yang tahu tentang Papua, apalagi Papua Barat, apalagi Kabupaten Sorong. Mengenal kata Sorong, orang mengasosiasikannya dengan Raja Ampat, wisata laut terkemuka dunia, atau dengan lokasi pengeboran minyak. Sejak 1947, wilayah Kota Sorong – sebelum dimekarkan menjadi Kota dan Kabupaten Sorong – memang dijuluki sebagai Kota Minyak, yaitu tempat basecamp perusahaan-perusahaan minyak di wilayah kepala burung.

Tahun 2012 menjadi tahun yang istimewa. Tepatnya tanggal 16 Juli, masyarakat Sorong memiliki harapan bahwa di masa mendatang akan memiliki kehidupan yang lebih cerah. Hari itu, Bupati Sorong beserta jajarannya meresmikan pengaliran gas melalui pipa yang menghubungkan Lapangan Matoa dengan Lapangan TAC Intermega Sabaku Pte Ltd. Apa yang istimewa dari hal tersebut? Pembukaan keran itu bukan sekedar pengaliran gas biasa, melainkan merupakan sebuah langkah besar yang diambil oleh pemerintah daerah, masyarakat, serta swasta untuk membangun Sorong yang lebih baik. Hasil dari kerja keras berbagai pihak setelah menunggu hingga 3 tahun lamanya.

Sejak dulu, kita diajarkan bahwa pengeboran minyak akan menghasilkan gas ikutan – yang dikenal dengan Associate Gas – yang tidak digunakan sehingga dalam prosesnya harus dibakar menjadi Gas Flare agar tidak meracuni dan membahayakan lingkungan sekitar. Praktik ini sudah dikenal hingga bertahun-tahun lamanya, dan diajarkan secara turun-temurun di bangku kuliah teknik perminyakan. Semua orang paham, Gas ikutan harus dibakar dan dibuang karena tidak memiliki nilai ekonomi, jika dibandingkan dengan produksi minyak.

Seiring dengan berjalannya waktu, harga minyak melambung mendekati 100 USD per barrel di tahun 2011, dan menyebabkan minyak menjadi komoditas yang populer di dunia internasional. Tidak hanya secara ekonomi, komoditas minyak bahkan mempengaruhi konstelasi politik antar bangsa dan tidak jarang menyebabkan perperangan untuk memperebutkannya. Harga minyak semakin mahal, sementara kebutuhan masyarakat tidak berkurang bahkan semakin bertambah. Minyak berarti kemakmuran bangsa. Pertanyaanya, apakah hanya minyak sumber energi kita?

Sumber energi pengganti minyak kurang populer hingga pada tahun 2006, dengan dirilisnya Inconvenient Truth di kampanye presiden Amerika Serikat, masyarakat dunia mulai terbuka dan menyadari bahaya pemanasan global terhadap keberlanjutan kehidupan generasi mendatang. Kita mulai sadar bahwa, semakin banyak fossil fuel yang digunakan, maka semakin banyak karbon yang dihasilkan, dan menyebabkan bumi ini menjadi semakin panas. Sudah saatnya kita beralih ke sumber energi lain. Ya, kita harus membedah otak untuk mencari alternatif selain minyak agar bisa bertahan hidup.

Sementara dunia membicarakan pemanasan global dan efisiensi energi, di sisi lain masih banyak tempat di Indonesia yang belum merasakan manfaat dari ketersediaan energi yang melimpah di negeri ini. Perjalanan pertama saya ke Sorong, tahun 2010, membuat tersentak kaget karena melihat betapa daerah penghasil minyak ini tidak mendapatkan manfaat yang signifikan, karena semua hasil dari sumber dayanya dibawa ke Jawa dan dinikmati hanya segelintir manusia Indonesia. Saya melihat bahwa pembangunan di wilayah Sorong baru dimulai setelah adanya Otonomi Daerah, yang menyebabkan Daerah bisa memiliki wewenang untuk mengembangkan potensi yang dimiliki dari oleh dan untuk masyarakat lokal. Sebagai daerah penghasil minyak selama ratusan tahun – dari jaman penjajahan belanda – seharusnya Sorong tidak memiliki persoalan energi. Nyatanya, Sorong dan sekitarnya mengalami krisis listrik hingga 24 MW dan keterbatasan pasokan BBM baik untuk keperluan transportasi maupun industri. Ada yang salah dan harus diubah dari pola pengelolaan energi kita. Seharusnya daerah penghasil juga memiliki hak untuk merasakan manfaat dari sumber daya alam yang dimilikinya.

Proyek pemanfaatan gas flare di Salawati menjadi sebuah gebrakan yang diinisiasi swasta bersama pemerintah daerah. Gas ikutan yang selama bertahun-tahun dibakar dan dibuang begitu saja, kini kita tangkap dan dimanfaatkan sebagai sumber energi. Tidak tanggung-tanggung, sebesar 5 MMSCFD Gas Flare kini diolah dan dimanfaatkan untuk kebutuhan lifting minyak serta pemenuhan kebutuhan listrik Kabupaten Sorong hingga 15 MW.

Proyek ini diawali dengan tahap pemurnian gas buang dari kandungan H2S dan air serta kompresi gas di Lapangan Matoa area JOB-Pertamina PetroChina. Selanjutnya, gas dialirkan melalui pipa transfer sepanjang 12 kilometer yang menghubungkan Lapangan Matoa dengan Lapangan Canal, dimana sebagian gas akan dimanfaatkan untuk lifting minyak. Terakhir, direncanakan dalam 8 bulan ke depan, sisa gas di Lapangan Canal akan dibangkitkan menjadi listrik dan disambungkan ke transmisi PLN Sorong, melalui kabel bawah laut maupun transmisi darat, untuk didistribusikan ke konsumen, baik untuk pemukiman maupun pada usaha jasa industri di area Kabupaten Sorong.

Proyek Gas Salawati ini merupakan proyek pemanfaatan Gas Flare pertama yang berhasil dilaksanakan di Papua Barat, bahkan pertama di seluruh Indonesia. Hanya dengan memanfaatkan ‘sampah’, kini Sorong memiliki peluang untuk menambah produksi lapangan minyaknya sekaligus memberikan pasokan energi yang cukup besar untuk tumbuhnya industri baru maupun penerangan rumah yang lebih reliabel. Tentunya, tidak hanya Pendapatan Asli Daerah yang bertambah, namun ketersediaan ini memberi peluang bagi 115.919 jiwa penduduk Kabupaten Sorong untuk bisa keluar kemiskinan dan pengangguran yang saat ini masing-masing berada di angka 31% dan 11,17%. Peluang investasi daerah pun semakin menjajikan. Secara bersamaan sedang dikembangkan Kawasan Industri baru di Arar, Pelabuhan Internasional di Seget, serta pengembangan kota baru Aimas City. Dan semua pembangunan itu menjadi mungkin salah satunya karena ketersediaan sumber energi. Secara khusus, ketersediaan listrik juga meningkatkan aktivitas belajar di malam hari, sehingga anak-anak di Sorong bisa berkembang lebih pesat dan menjadi aset penerus bangsa di masa depan. Dengan demikian, ke depan Sorong bisa semakin maju dan sejahtera.

Tidak hanya memenuhi kebutuhan energi daerah, namun berjalannya proyek ini juga diharapkan membuka paradigma tentang pengelolaan energi baru di Indonesia. Kita harus berani mendobrak potensi energi alternatif, baik energi terbarukan maupun memanfaatkan sumber energi yang terbuang, sehingga tidak ada lagi persoalan krisis energi yang mengganggu pertumbuhan ekonomi dan sosial, terutama di pelosok Indonesia dan di luar pulau Jawa Sumatera. Sebagai bahan renungan, tahun 2008 kita memiliki volume gas flare sekitar 113 MMSCFD di Indonesia, sekitar 109 MMSCFD berasal dari kegiatan hulu migas dan sisanya dari kegiatan hilir migas. Dengan  memanfaatkan sebagian saja, kita bisa menghasilkan hingga 250 MW listrik untuk masyarakat langsung maupun industri sekaligus mengurangi kerusakan lingkungan akibat limbah pembakaran karbon. Bayangkan manfaat yang dihasilkan apabila kita bisa mengoptimalkan seluruhnya.

Mengutip sambutan Bupati Sorong Stepanus Malak dalam peresmian 16 Juli, “Saya berharap kita yang merupakan dari terjauh di wilayah Indonesia Timur dapat memberikan contoh kepada bangsa dan Negara ini, agar dapat membuka pandangan Negara bahwa potensi yang ada saat ini dapat memberikan kemakmuran masyarakan yang seluas-luasnya.“, proyek pemanfaatan gas flare Salawati ini merupakan pelajaran besar bagi bangsa ini bahwa pemanfaatan sumber energi lokal dengan optimal tidak hanya mengurangi ketergantungan kita terhadap bahan bakar fosil, namun juga mampu mengakselerasi pertumbuhan daerah secara signifikan dan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi kedaulatan masyarakat, kedaulatan bangsa Indonesia.

*ditulis untuk artikel Majalah Energi

Advertisements

One response to “Gas Flare, Sumber Energi yang terlupakan

  1. Semoga sbg inspirasi buat daerah2 lainnya ..dan bisa cari alternatif energi terbarukan .. Tgs pemerintah untk mengakomodasikannya ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s