Petikan Pelajaran Perjalanan: E-Idea Eco Social Enterprise UK Study Trip 23-28 April 2012

Belajar dan Berbagi bersama Social Entrepreneur UK

Social Enterprise di UK berkembang pesat dan memegang peranan penting dalam perekonomian. Kini, jumlahnya mencapai 68,000 perusahaan, dengan total kontribusi mencapai 24 milyar GBP dan memberi pekerjaan bagi lebih dari 800,000 orang. Social Enterprise di UK bergerak hampir di seluruh lini, mulai dari renewable energy, layanan kesehatan dan perlindungan social, transportasi, retail, agro, hingga perumahan.

E-Idea Study Trip kali ini mengambil tema Eco Social Enterprise dimana E-Idealist dari 7 negara diberi kesempatan untuk berinteraksi, berdiskusi, dan beraktivitas bersama para social entrepreneur UK selama sepekan dari tanggal 23-29 April 2012 di London dan Wales UK.

Nah, rombongan Study Trip kami terdiri dari tim BC, E-Idealist, dan Japan Low Carbon Cup Winner yaitu:

1)    Huw Olliphant, Project Manager Regional E-Idea dari British Council Tokyo, Jepang sebagai ketua rombongan.

2)    Emma Wang, Project Manager E-Idea dari British Council Shanghai, Cina yang membantu Huw menyiapkan segala kebutuhan Study Trip ini

3)    Huang Ke dan Yang Junwei, E-Idealist Cina yang mengembangkan konsep V-roof atau Vegetable Roof. Mereka memanfaatkan lahan kosong di atap-atap gedung kota Shanghai untuk dijadikan kebun dan media interaksi komunitas yang lebih sadar lingkungan

4)    Nerida Lennon, E-Idealist Australia yang melakukan kampanye Sustainable Fashion untuk influence tren industry fesyen lewat pembuatan video dokumenter maupun media lainnya.

5)    Trinh Minh Duc, E-Idealist Vietnam yang mengerjakan composting dari limbah sapi menggunakan cacing di Project Excavatus

6)    Orapin Sinamonvech, E-Idealist Thailand, yang memanfaatkan limbah serat alam menjadi strawboard dan bisa dimanfaatkan untuk interior bangunan. Orapin ini teman sekamar saya selama di UK. She was very nice.

7)    Seungjae Lee, E-Idealist Korea Selatan yang membuat tempat sampah dengan teknologi mesin press otomatis menggunakan tenaga matahari dan sistem monitoring online untuk menjawab persoalan tumpukan sampah di Seoul

8)    Tatsunori Kikuchi, E-Idealist Jepang yang mencoba mengajak pecinta berkuda untuk menanam sayuran yang dimakan manusia dan sisanya bisa menjadi pakan kuda sehingga Jepang bisa mengurangi impor makanan

9)    Satoshi Yanagisawa, E-Idealist Jepang yang tinggal di London. Berprofesi sebagai desainer, Satoshi mengembangkan sustainable design dengan mengubah perilaku manusia – salah satunya lewat produk Cyclus yang memungkinkan kita mengisi baterai gadget dengan tenaga kinetik tangan

10) Saya sendiri, Shana Fatina, E-Idealist Indonesia yang merespon tantangan akselerasi konversi energi dengan memberi jasa keuangan mikro bagi pengemudi angkot untuk melakukan konversi Bahan Bakar Gas

11) Mr Hiroyuki Inagawa dan Mrs Satoko Inagawa, Pemenang Low Carbon Cup di Jepang dengan proyek pembangkit listrik mini geothermal dan sumber biomas lainnya

Berikut ini adalah kisah perjalanan kami dalam rangka belajar dan bertukar pengalaman dengan kisah-kisah sukses Eco Social Entrepreneurship di UK. Tentunya, pengalaman luar biasa ini akan menjadi inspirasi kami untuk terus maju berkarya dan menularkan semangat triple bottom line sustainability. Tidak sabar lagi nih untuk menyerap ilmu-ilmu baru disana dan membawanya kembali ke tanah air. Yuk berangkat!

Hari 1, 24 April – Berkenalan dengan ragam aktivitas Social Enterprise di UK

Cuaca pagi ini yang super dingin berangin, 9 derajat, dan sedikit efek jetlag membuat awal perjalanan ini cukup menantang. Hari ini kami akan berkunjung ke NESTA, Social Enteprise UK, dan Hackney Farm.

Kunjungan pertama kami adalah ke kantor NESTA. NESTA terletak di Plough Place, London. Di sana, kami bertemu dengan Hellen, Alex, Heidi, Vicky, dan Alice yang menjelaskan bagaimana peran NESTA dalam mendukung pergerakan social enteprise di UK. Mulai dari konsep mewujudkan ide kohesi sosial menjadi kenyataan dengan dukungan great network, great collaboration, and great fund hingga pelaksanaan kompetisi tahunan ‘Big Green Challenge’ berhadiah 1 juta GBP sebagai stimulan bagi inisiatif social berbasis masyarakat seantero UK. NESTA berperan layaknya inkubator inovasi social, dan yang mengagumkan adalah sumber dana mereka salah satunya dari NationaI Lottery Fund dan ditunjuk resmi oleh Pemerintah UK. Ini merupakan hal yang baru bagi saya, karena di Indonesia belum ada lembaga yang sengaja dibentuk dan mensupport kegiatan inovasi sosial masyarakat seaktif ini dan tidak bermasalah dengan sumber pendanaan.

Selepas dari NESTA, kami lanjutkan perjalanan ke Social Enterprise UK di Toley Street. Ada yang menarik dari kantor ini. Kebakaran besar tahun 1861 mendorong masyarakat untuk membangun Fire Station mereka sendiri – Fire Sation Toley Street adalah Fire Station pertama di UK yang dibangun dan dikelola secara swadaya. Kini, gedung bekas Fire Station ini dirombak menjadi ruang kantor dan lantai dasarnya dijadikan restoran yang juga dikelola dengan konsep social enterprise. Kami disambut hangat oleh Nick Temple, Business & Enterprise Director. Social Enterprise UK adalah lembaga yang memberi layanan konsultan serta jaringan bagi start-up social enterprise di UK agar bisa tumbuh berkembang. Nick menyampaikan kalau saat ini mereka sedang memperjuangkan Undang-Undang Social Value di parlemen yang akan memasukkan unsur dampak sosial dan lingkungan sebagai Key Performance Indicators APBN Inggris. Dengan begitu, setiap aktivitas konsumsi pemerintah Inggris harus memenuhi kriteria ‘kebermanfaatan sosial’ dan ini tentunya membuka peluang bagi social enterprise berpartisipasi dalam tender-tender pemerintah.

Akhirnya jam makan siang pun tiba, dan kami mencoba hidangan khas Brigade, restoran Social Enteprise di lantai dasar. Brigade didirikan oleh Beyond Food Foundation, sebuah yayasan yang memberikan keterampilan memasak dan kesempatan bekerja bagi tunawisma maupun pekerja yang di-PHK. Brigade adalah contoh nyata kolaborasi swasta – PWC Company – dan NGO – the Beyond Food Foundation – dalam menjawab tantangan pengangguran UK.

 

Lanjut di Hackney City Farm, Gustavo Montesde Oca, Environment and Enterprise Manager, memimpin tur mengelilingi kompleks peternakan tengah kota yang dibagi menjadi kawasan aneka ternak, café dan studio rekaman film, bengkel sepeda komunitas, track sepeda gunung, caravan untuk sekolah anak nakal, serta kebun warga kota. Pengelolaan Hackney City Farm dilakukan secara swadaya dari oleh dan untuk komunitas dengan menjunjung prinsip eco-friendly. Hackney City Farm sendiri dulu merupakan lahan kosong yang berhasil berubah dari slump area menjadi pusat aktivitas warga kota selama lebih dari 20 tahun. Peternakan kota ini berhasil membuka ruang diskusi lintas generasi dan latar belakang penghuni sekitarnya untuk beraktivitas bersama-sama serta membangun lingkungan tinggal yang lebih baik.

 

Hari pertama telah selesai, dan kami berangkat menggunakan minibus menyebrangi Jembatan ‘Suramadu’ England ke Wales. Hari ini saya melihat bahwa iklim di UK sangat mendukung berkembangnya Social Enterprise. Inisiatif warga yang tinggi dan kohesi sosial yang kuat adalah modal awal. Namun, peran lembaga inkubasi dan akses pendanaan ternyata sangat krusial apabila kita memang serius ingin Social Enterprise berkembang di Indonesia.

Hari 2, 25 April – Selamat datang di Surga Hijau Wales!

Pagi di Wales disambut oleh hujan yang sangat lebat. Setelah check out dari hotel kami langsung menuju Abergavenny, kawasan Brecon Beacons National Park, untuk bertemu the Green Valleys. The Green Valleys adalah komunitas masyarakat Brecon Veacons yang ingin mengubah tempat tinggalnya menjadi carbon negative. Kami ditemani Suzy O’Sullivan, Customer Relation Officer mereka.

 

Di sana kami bertemu dengan Jo dan komunitas kelompok kayu. Mereka menggunakan kayu Hazel yang belum termanfaatkan sebagai bahan baku batu arang, biomass penghangat ruangan, serta bahan bakar mobil. Saya sendiri baru tahu kalau pada masa Perang Dunia, ada lebih dari 1 juta kendaraan di Eropa yang menggunakan bahan bakar kayu. Selain itu, kami sempat bergantian mencoba perahu tradisional yang biasa digunakan untuk memancing. Perahu dibuat dari batang kayu hazel yang lentur dan dialasi terpal berlapis ter sehingga air tidak masuk.

Chris Blake, Direktur The Green Valleys, menjelaskan tentang komunitas TGVHydro yang membuat pembangkit listrik mikrohidro berbasis komunitas. Di tengah hujan rintik-rintik, kami melihat sumur intake di puncak bukit dan kemudian berjalan menyusuri jalur pipa hingga turun ke kaki bukit lokasi powerhouse. Mereka memanfaatkan jeram untuk menghasilkan listrik hingga 11 kW yang kemudian dijual ke jaringan listrik nasional sehingga dapat memberi keuntungan finansial bagi komunitas.

Pemandangan Wales sangat indah. Persis seperti lukisan. Sepanjang perjalanan, kiri-kanan jalan dipenuhi pemandangan ratusan biri-biri, kuda, dan sapi yang sedang asyik merumput di antara bukit-bukit hijau. Wales memang sisi countryside Inggris yang jauh lebih tenang dari London. Kami pun segera kembali ke London sebelum gelap.

 

Pelajaran dari The Green Valley hari ini yaitu bagaimana masyarakat pedesaan bergotong royong untuk memanfaatkan potensi terbengkalai di daerahnya, seperti kayu bakar dan jeram air, menjadi hal yang memberikan nilai tambah nyata secara ekonomi, sosial, dan lingkungan bagi komunitas itu sendiri – Memberi pemasukan tambahan, mempererat kebersamaan, dan menjaga kelestarian lingkungan. Kehidupan yang berselaras dengan alam ini tidak hanya memberikan kesehatan fisik, namun juga kesehatan mental kita. Sebenarnya yang terjadi di sini tidak jauh berbeda dengan prinsip gotong royong dan tepa selira yang kita temui di Indonesia, terutama di kawasan pedesaan. Bedanya, di sini kita kurang memperhatikan soal dokumentasi dan publikasi sehingga kadang kala menjadi sulit bagi generesi selanjutnya untuk mengakses, mempelajari, maupun meneruskan inisiatif yang sudah dirintis. Sedangkan, The Green Valleys memiliki tabloid komunitas yang mengupdate perkembangan aktivitas komunitasnya secara berkala.

Hari 3, 26 April – the Most Hectic and Incredible Day

Kembali di London, hari ini jadwal kami sangat padat. Pagi berkunjung ke kantor pusat Lloyd’s Register Group, siang mengikuti Workshop Earth Debates di kantor British Council pusat, Meeting sore dengan Kementrian Energi dan Perubahan Iklim UK, dan malamnya menghadiri Earth Debates di National History Museum.

Di Lloyd’s Register Head Office, Frenchurch Street, rombongan disambut langsung oleh Mark Stokes, Group Communication Director Lloyd’s Register, beserta jajaran direksi LR Group. Sesi dimulai dengan presentasi para E-Idealist dan dilanjutkan dengan diskusi. Di luar perkiraan, Lloyd’s Register Group sangat terkesan dan mengapresiasi ide-ide kami dalam membawa sustainable living within the society dan mendorong kami untuk terus bekerja keras mewujudkannya. Setelah presentasi, kami diajak berkeliling kantor LR Group yang super unik – gabungan antara bangunan heritage berusia 200 tahun dengan gedung modern. Seperti visi mereka, Life that Matters, kantor LR Group merepresentasikan bagaimana mereka sangat menghargai tiap lesson learned yang dialami perusahaan mereka sejak abad pertengahan hingga saat ini. Perpustakaan dan konservasi rekam jejak sejarah perusahaan mereka benar-benar detil dan menakjubkan! Tidak heran kenapa values mereka bisa bertahan tak lekang zaman dan terus berinovasi. Kantornya keren pisan.

  

Hujan deras masih membasahi London. Namun kami harus pergi ke kantor pusat British Council di Trafagal Square untuk mengikuti Workshop Rio+ 20 bersama para Green Ambassador. Sesi pertama diisi oleh Mrs. Laura dari Brazil yang menyampaikan overview sejarah Rio+ 20 Meeting dan Georgie Macdonald dari Stakeholder Forum yang menjelaskan peran stakeholder dalam meeting tersebut. Pada sesi kedua, kami dibagi menjadi grup kecil dan membahas isu-isu terkait kebijakan lingkungan, seperti energy, food security, beyond GDP, dan Ecosystem Economy. Tidak sampai selesai, kami pamit duluan untuk berangkat pertemuan di Kementrian Energi dan Perubahan Iklim (DECC) UK.

Tepat pukul 4 sore, kami mulai berdiskusi dengan Lord Marlan, Parliamentary Under Secretary of State DECC UK. Setelah bergantian melakukan presentasi singkat, Lord Marlan yang humoris lalu memberi tanggapannya. Beliau juga menceritakan arah strategi kebijakan energi UK saat ini dan bagaimana green energy policy menjadi salah satu unggulan mereka untuk menjawab tantangan perubahan iklim.

 

Acara Last Pit Stop Before Rio+ 20 diselenggarakan di National History Museum. Para E-Idealist berpencar bersama Green Ambassador lainnya dan bergabung dengan perwakilan masyarakat sipil, akademisi, pemerintah, dan bisnis dalam format makan malam berkelompok. Tiap meja membahas serta membentuk visi bersama tentang masa depan yang berkelanjutan untuk dibawa ke Rio+ 20. Setelah sesi grup selesai, dibuka diskusi lintas grup yang dimoderatori dan dirangkum kemudian oleh Richard Black sebagai bahan pertemuan Rio+ 20 nanti.

Hari ini sangat melelahkan, namun padat manfaat. Saya berkesempatan bertemu dengan orang-orang hebat yang memiliki concern sama tentang hijaunya bumi dan mencoba menyatukan visi dalam diskusi meja yang setara. Meski pembicaraannya tergolong High Level Policy yang jauh dari jangkauan kita, paling tidak saya bisa melihat gambaran kepedulian warga London dari berbagai lapisan mengenai perubahan iklim. Yang menarik disana, warga London tidak hanya membahas perilaku hijau, tapi secara langsung mengubah perilaku mereka menjadi lebih hijau. Sebagai contoh, makan malam kami disajikan ala vegetarian dengan porsi yang tidak berlebihan. Diskusi lintas stakeholder seperti ini dilakukan di ruang public yang proper, yaitu museum. Semua kemasan makanan mencantumkan komposisi dan ‘proses’ pembuatannya karena konsumen hanya mau membeli makanan yang memiliki sedikit carbon foot print. Tidak hanya menunggu insentif pemerintah, namun tiap individu tampak aktif untuk memulai perubahan dari dirinya masing-masing dan bersikap openmind terhadap masukan dari berbagai pihak.

 

Hari 4, 27 April – Transformasi Paradigma Green Lifestyle dari Lokal ke Global

Hari terakhir Study Trip! Hari ini kami mengunjungi pemenang Green Challenge lainnya, yaitu Global Generation dan London Re-Use Network. Kemudian dilanjutkan dengan makan malam sebagai penutup rangkaian acara sepekan ini.

Global Generation terletak di kawasan King Cross, dekat stasiun kereta api Harry Potter yang terkenal itu. Dimotori oleh Jane Riddiford, komunitas ini melakukan urban farming menggunakan wadah bekas tempat sampah yang ditanami dengan tanaman sayuran maupun herbal. Kami mengunjungi Skip Garden dan melakukan workshop bersama tentang values transformation. Di workshop ini, setiap orang boleh memilih satu benda mati atau hidup dan kemudian menceritakan ke semua mengenai nilai apa yang diilhami dari benda tersebut. Global Generation ingin mendorong aktivis muda untuk bisa menjaga keharmonisan lingkungan dengan paradigma keterhubungan universal, yaitu bahwa sesungguhnya satu manusia terhubung dengan yang lain sehingga kita bersama-sama harus menjaga bumi untuk bisa hidup berkelanjutan. Lepas jamuan makan siang, kami pun diajak George, Farmer andalan mereka, melihat roof top Urban Farming di salah satu gedung setempat.

Kunjungan terakhir kami adalah ke London Re-Use Network di Charles Square. Disini kami disambut oleh Richard Featherstone, Regional Development Manager London Community Resource Network. London Re-Use Network dibentuk dengan semangat akar rumput sebagai respon terhadap tingginya intensitas warga London dalam mengganti furniture. Warga London sering sekali mengganti furniture, meski kondisinya masih layak pakai, sehingga menimbulkan tumpukan sampah furniture. Usaha sosial ini mengumpulkan, memproduksi ulang, dan mendistribusikan barang bekas berkualitas ke warga yang berminat di area London. Kini, mereka sedang berjuang untuk mengajukan reuse property dan furniture Olimpiade 2012.

Akhirnya, tibalah kami di penghujung rangkaian E-Idea Eco Social Enteprise UK Study Trip. Kami menutupnya dengan makan malam bersama di restoran Vietnam. Tentunya, Duc bertindak sebagai translator dan rekomendator hidangan bagi kami yang awam dengan makanan Vietnam. Tommy Hutchinson dan Shivang Patel dari i-genius juga bergabung bersama kami. Sebagai tambahan informasi, i-genius beberapa minggu sebelumnya mengadakan Social Entrepreneur Conference Series di Bangkok, yang juga sempat dihadiri oleh beberapa E-Idealist.

Mengikuti rangkaian Study Trip ini membuka mata kami mengenai praktik Social Enterprise di UK yang selama ini hanya bisa diakses dari informasi internet. Melihat bagaimana mereka berkembang pesat dan iklim seperti apa yang bisa membantu hal tersebut membuat kami ingin bisa memodifikasinya untuk diimplementasikan di Indonesia. Saya pribadi sangat bersyukur bisa mendapat kesempatan untuk belajar langsung dari pengalaman Social Enterprise di UK serta untuk berbagi bersama rekan-rekan dari keenam Negara E-Idealist lainnya.

We really had a great time: great experiences, great friends, great rain, great food, and great fun! Terima kasih banyak British Council dan LRQA, insya Allah yang diberikan kepada kami para E-Idealist sangat bermanfaat dan semoga bisa berkontribusi nyata dalam mewujudkan bumi yang lebih baik.

Shana Fatina

E-Idea Competition Winner, Indonesia 2011

find more at http://e-idea.org/

Advertisements

3 responses to “Petikan Pelajaran Perjalanan: E-Idea Eco Social Enterprise UK Study Trip 23-28 April 2012

  1. We’re a bunch of volunteers and starting a brand new scheme in our community. Your website offered us with useful information to work on. You’ve done a formidable process and our whole
    neighborhood will likely be grateful to you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s