Sabuga, Oktober 2009

Yang terhormat,

Pimpinan dan Anggota Majelis Wali Amanat,
Pimpinan dan Anggota Majelis Guru Besar,
Pimpinan dan Anggota Senat Akademik ITB,
Pimpinan dan Anggota Dewan Audit ITB,
Rektor dan jajaran Wakil Rektor ITB,
Para Pimpinan Fakultas/Sekolah, dan seluruh Dosen ITB, Para Pimpinan Unit Kerja Akademik dan Unit Kerja Pendukung ITB,
Para Orang Tua/Wali, Keluarga,
Rekan-rekan seperjuangan Wisudawan – Sarjana, Magister, dan Doktor yang saya sayangi
Serta segenap Tamu Undangan yang berbahagia.

Assalamualaikum Wr. Wb.
Selamat berbahagia untuk kita semua.

Alhamdulillah, akhirnya kami lulus juga. Terima kasih sebesar-besarnya untuk Allah SWT yang telah memberikan rahmatNya, ilmuNya, kekuatanNya, cintaNya yang disalurkan dengan hebat, baik secara langsung, maupun lewat saluran-saluran terbaikNya : Bapak, Ibu, Pak Rektor, Para Guru Besar, Senat Akademik, dosen, karyawan, teman-teman sekalian. Akhirnya setelah dibekali secara luar biasa, kami dikembalikan lagi menjadi bagian dari masyarakat besar bernama Indonesia. Terima kasih karena kini kami memiliki panggilan tambahan “Sudah ST, Master, atau Doktor” dan tagih kami untuk senantiasa menjaga integritas titel-titel tersebut. Alhamdulillah.

Dunia ini tidak dibuat secara kebetulan. Dan peristiwa di dalamnya pun tidak mungkin sebuah kebetulan. Lahirnya kita ke dunia, siapa orang tua dan keluarga kita, lingkungan hidup kita, dan tentunya masuknya kita ke ITB juga bukanlah sebuah kebetulan. Selepas dari ITB, tibalah kita di titik penentuan akan peran apa yang akan kita ambil sebagai agen pengubah masyarakat. Fase kelulusan mengantarkan kita menentukan masa depan kita sendiri, yang tentunya juga bukan sebuah kebetulan.

Seperti Ibu Guru di sekolah dulu, pertanyaan favorit yang sering saya lontarkan ke teman-teman, terutama calon wisudawan adalah : “setelah lulus, mau kemana?”. Ada yang menjawab ingin kuliah, ingin kerja di perusahaan x, ingin berusaha, ingin menjadi dosen, dan sebagainya. Ada juga yang mencoba mengelak menjawab dengan mengalihkan topik pembicaraan, atau ada lagi yang hanya mengatakan ikut saja kemana arah angin membawa. Biasanya, saya bertanya lebih lanjut, demikian : “Kenapa memilih itu? Kenapa tidak yang lain? Kamu benar-benar suka itu?”. Dan untuk pertanyaan ini, seringkali menemukan kegamangan di mata rekan-rekan. Apa kira-kira yang membuat kita cemas? Apa yang kita cari dalam hidup ini? Apakah kita benar-benar menginginkannya?

Apapun itu, tentunya kita tidak akan menyerah dengan tantangan-tantangan yang ada bukan? Yang jelas, lahirnya cita-cita dan impian kita bukan suatu kebetulan, tapi bisa jadi adalah panggilan jiwa yang harus dibuktikan kebenarannya secara ilmiah.

Rekan-rekan wisudawan yang saya sayangi,

Mulai hari ini, kita akan menata penggalan puzzle masing-masing sehingga menjadi gambar lengkap yang tidak bisa dilepaskan keterkaitannya satu sama lain. Teman-teman wisudawan, ayo kita tentukan bidang yang kita gali, ayo eksplorasi dengan amunisi yang telah kita miliki agar kita mampu menjadi bagian dari solusi persoalan masyarakat serta meningkatkan kualitas hidup bangsa.

Menjadi bagian dari ITB merupakan anugerah, dan kita adalah orang-orang yang sangat beruntung. Kita diberikan akses kepada pusat pengetahuan terbaik, dosen-dosen yang baik, memanfaatkan fasilitas laboratorium atau studi yang relatif baik, bertemu dengan rekan-rekan yang bisa diajak untuk bertukar pemikiran-pemikiran ilmiah, dan berbagai hal lain yang hanya akan kita dapatkan dari ITB. Hal-hal yang oleh banyak orang terasa mustahil untuk didapatkan. Kondisi ITB memungkinkan kita mampu membangun visi kondisi ideal yang ‘seharusnya’ sekaligus melihat kondisi bahwa hari ini masih jauh dari ideal. Kita harus mengakui bahwa walaupun kita sering mengeluhkan kondisi ITB, kondisi jurusan kita, kondisi lab kita, kita jauh lebih beruntung daripada banyak orang di negara kita. Kita mengenal persoalan, sehingga kita tahu bahwa persoalan bisa diselesaikan.

Dengan segala keterbatasan yang ada, jangan sampai kita tidak bersyukur dan teralih dari panggilan jiwa kita sebagai insan ITB. Jangan sampai kita terlena, untuk fokus pada masalah kebutuhan pribadi dan melenakan predikat sebagai lulusan engineer, scientist, maupun seniman ITB. Jangan sampai kita tidak peka dan menyakiti satu sama lain secara tidak sengaja.

SKS telah ditempuh, kini saatnya mengecek kesiapan amunisi kita sebelum bersama-sama masyarakat bertransformasi menjadi lebih baik. Sudah cukupkah pengetahuan yang kita serap? Cukupkah wisdom dosen, guru besar, rektorat, karyawan, mahasiswa, maupun civitas akademika lainnya yang telah kita teladani? Cukupkah mental kita tertempa untuk menjadi pejuang, pelopor, pengabdi masyarakat yang unggul? Cukupkah rekan-rekan kita atau komunitas yang akan terus berjuang bersama dan saling mengingatkan untuk suatu cita mulia yang nyata?

Masihkah kita mengenal dekat persoalan bangsa saat ini? Apa yang terjadi di Gempa Tasikmalaya, Gempa Padang, maupun potensi bencana alam lainnya? Sudah tepatkah langkah-langkah penanganan yang diambil? Bagaimana mitigasi bencana yang tepat untuk mengantisipasinya? Apa yang harus kita lakukan dan siapkan?

Masihkah produk dasar kita bergantung pada impor? Bagaimana menghadapi keterbatasan energi, pangan, sumber daya air, kerusakan lingkungan, bencana alam, teknologi, maupun kesenian? Apa yang harus kita lakukan dan siapkan? Peradaban masa depan apa yang akan kita rancang dan bangun? Apa yang harus kita lakukan dan siapkan?
Apapun panggilan jiwa kita, dengan predikat lulusan ITB, sekarang kita menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari keluarga besar ITB.

Momen wisuda ini memang momen perayaan keberhasilan, kebanggaan, transisi fase hidup, dan tentunya momen untuk merefleksikan dan mensyukuri kebaikan sang Pencipta atas talenta dan fasilitas yang telah Dia berikan. Sehingga, kini kita termantapkan untuk berani mengambil peran nyata yang solutif dalam masyarakat.

ITB bukan hanya pimpinan-pimpinannya, bukan hanya dosen-dosennya, bukan hanya Bapak-Ibu yang bekerja di unit-unit ITB, tetapi kita juga, lulusan-lulusan ITB, dan calon adik-adik kita nantinya. Kita adalah ITB. Dan ITB tidak pernah berhenti belajar, selalu berpikiran terbuka untuk menemukan inovasi dan alternatif solusi baru.
Terima kasih Bapak Ibu tersayang, yang telah mendidik kami dari awal, menciptakan titik sentuh keluarga yang luar biasa, dan membuat kami bisa mencerna dunia dengan istimewa. Terima kasih Kakak, Adik, dan keluarga lainnya yang menjadi teman dan rekan dalam belajar, berkembang, dan membentuk karakter, visi, serta toleransi dalam berkehidupan.

Terima kasih kepada seluruh mentor dan guru yang memantapkan jati diri, pengenalan diri, dan memberikan ruang diskusi sebanyak-banyaknya sehingga kita bisa menemukan makna dari pengetahuan dan manfaat keberadaannya.

Kami dididik untuk mampu mengenal persoalan, menciptakan visi, serta mengidentifikasi tangga-tangga yang perlu diambil untuk menuntaskan persoalan tersebut. Kami dididik untuk mencintai masyarakat sebelum menjadi pandu kehidupan bersama yang lebih baik. Kami dilatih untuk berjuang dan saling menolong untuk mencapai kebaikan.

Terimakasih rekan-rekan yang tidak pernah letih berjuang bersama. Dengan semangat yang tinggi, kelakuan ajaib dan inspirasional, serta doa restu semua, mudah-mudahan menjadi energi kita untuk menjadi lulusan yang amanah dan bahagia. Mari kita ciptakan persaudaran atau fratérnité yang mampu saling menjaga untuk menginspirasi bangsa kita agar mampu bertransformasi menjadi bangsa yang benar-benar merdeka.
Terima kasih ITBku. Tempat ini akan selalu hidup dan menjadi wahana yang membentuk pola pikir kejuangan, keunggulan, kepeloporan, pengabdian sebagai karakter dasar ilmu pengetahuan. Terima kasih atas pelajaran bahwa pengetahuan meninggikan tidak hanya status kita di masyarakat tetapi juga tanggung jawab akan nilai tambah yang dihasilkan sebagai inovator sosial. Terima kasih atas penguatannya, komunitasnya, daya juangnya, karena kami mungkin tidak akan sekuat itu berjuang kalau hanya dididik biasa-biasa saja. Saya pasti kangen kalian semua.

Rekan-rekan wisudawan yang saya banggakan,

Kenali masyarakat dan hiduplah bersama mereka. Tumbuhlah dari dalam dan jadilah manfaat untuk mereka.

Jadilah inspirasi dunia.

Jumlah penduduk boleh bertambah, jumlah mahasiswa bisa bertambah, jumlah orang baik juga pastinya makin bertambah, tapi akan selalu ada satu Indonesia. Bukan kebetulan kita dilahirkan sebagai orang Indonesia.
Untuk Indonesia yang mandiri, untuk masyarakat Indonesia yang pandai bersyukur, mari kita berkolaborasi untuk dunia yang lebih baik.

Terima kasih banyak. Terima kasih atas semuanya. Ayo kita mulai dari Indonesia.

Salam Metal Anak Bangsa.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater..
MERDEKA!

Shana Fatina Sukarsono

Semoga kita menjadi inspirasi dunia..

Advertisements

13 responses to “Sabuga, Oktober 2009

  1. Wah bu pres, ini toh ternyata pidatonya waktu itu hehe sayang bgt ogut nunggunya di luar ga denger.. AYOO semangat! ditunggu yaa CREATION nya hehe 😉

  2. keren banget, shana… I’m so proud of you. Your parents must be so proud of you.. Indonesia must be so proud of you.. you’ll always be a shining star that everyone, including me, looks up to.

    terus berkarya, shana.. =)

  3. saya sampai sekarang nggak bisa lupa pidato ini. membaca teks ini lagi, saya masih merasakan keterharuan yang sama. thanks god, i can listen it directly, menemani pacar tempo hari. menganggumimu dengan sangat.

  4. kak shanaaaaaa… *baru mampir ke blognya ka shana*
    ini keren bgt.. ak jadi pengen cepet di wisuda..
    huaa.
    iam your big fans 😀
    keyeeen..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s