Gimana ceritanya kalau pendidikan jadi barang tersier?

Namanya juga tersier, berarti kebutuhan yang dikategorikan ‘mewah’. Tersier, berarti baru dipenuhi setelah kebutuhan primer dan sekunder terpenuhi. Ki Hajar Dewantara berujar bahwa pendidikan adalah membebaskan manusia. Pernyataan yang menarik. Kenapa dengan pendidikan manusia menjadi bebas? Apakah arti kebebasan dan hubungannya dengan kualitas hidup manusia?

Apa jadinya kalau kita tidak mengenal matematika? Tidak mampu untuk berhitung sederhana? Suatu pagi kita datang ke pasar, membeli 5 buah jeruk harga 450 rupiah per buah dengan membawa uang 3000 rupiah. Karena tidak tahu berapa 450 rupiah dikali 5, maka kita terima-terima saja saat diberikan kembalian 500 rupiah. Belum-belum, sudah rugi 250 rupiah. Padahal, tambah 200 lagi, kita bisa memperoleh 1 buah tambahan. Apakah kita menjadi manusia yang bebas?

Melihat kondisi aktual, pelajaran PPKn memang mengajarkan bahwa pendidikan adalah kebutuhan primer, namun sebagian besar masyarakat tampaknya masih memperlakukan pendidikan seakan-akan barang mewah. Pendidikan adalah barang istimewa, yang tidak semua kalangan berhak memperolehnya. Pemberlakuan RUU BHP, misalnya saja, bisa jadi memperkuat mindframe masyarakat perihal hanya yang kaya saja yang bisa sekolah. Sisi lain, pendidikan gratis pun mulai digembor-gemborkan. Namun, banyak anak jalanan yang coba untuk ditarik ke sekolah gratis, justru masih lebih memilih untuk kembali ke jalanan dan mencari nafkah. Apakah gratis menjadi solusi pendidikan kita? Apakah masyarakat sudah sadar bahwa pendidikan adalah kebutuhan primer? Mungkin gratis saja belum cukup.

Teori kebutuhan Maslow mengatakan bahwa  kebutuhan mendasar manusia adalah kebutuhan fisik, yaitu makanan, minuman, dan kesehatan. Tangga berikutnya, yaitu keamanan dan rasa tenteram, kemudian diikuti kebutuhan dicintai, dihargai, dan puncaknya aktualisasi diri. Dimanakah letak pendidikan? Secara kasat mata, pendidikan diperlakukan seperti nilai tambah saja. Ketika seorang manusia mendapatkannya, maka dia baru akan mendapat wawasan yang lebih luas, pemahaman, serta konsep berpikir untuk kualitas hidup yang lebih baik. Bagaimana dengan yang tidak mendapatkannya? Bagaimana cara mereka memperoleh cara pandang tersebut? Apa yang mereka lihat selama ini?

Contoh mudah, misalnya, dalam hal lingkungan. Rahmat Witoelar dalam pidatonya pernah mengatakan, bahwa  “Kemiskinan dan lingkungan hidup bagaikan dua mata uang yang sama. Bila masyarakat miskin maka lingkungan pun akan rusak, begitu pun sebaliknya, lingkungan yang rusak akan membuat masyarakat semakin miskin”. Apakah pendidikan mampu membebaskan manusia dari kemiskinan dan kerusakan lingkungan?

Ketika dunia kedokteran belum menemukan penyakit kanker, sudah banyak manusia yang mengidap penyakit ganas tersebut dan hingga meninggal. Dulu, para dukun obat mengatakan bahwa manusia tersebut mendapat karma dewa, sementara saat ini mungkin ia akan diidentifikasi terjangkit kanker kelenjar lalu harus menjalani kemoterapi. Pengetahuankah yang membebaskan manusia? Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan terbukti membuat usia harapan hidup semakin tinggi. Apakah dengan demikian manusia terbebaskan?

Apakah semua pengetahuan itu hanya menjadi hak milik sebagian orang yang mendapatkan pendidikan? Hanya yang pintar yang tahu ada sakit selain sehat. Hanya yang pintar yang tahu arti dari ekonomi dan sistem keuangan. Hanya yang pintar yang bisa menjaga keseimbangan alam dan lingkungan. Dan kemudian, dunia ini hanya bergantung kepada si komunitas pintar. Tentu tidak.

Manusia jelas akan terbebas dengan adanya pendidikan. Pendidikan memberikan visi dan kacamata standar kualitas hidup. Hal ini menjadi kekuatan dari perang melawan kemiskinan dan – tentunya – kebodohan. Dua musuh utama bangsa kita. Bagaimana caranya agar pendidikan bisa memanusiakan manusia dan membuat kehidupan lebih baik dan lebih bermakna.

Pertanyaan besarnya, sudahkah semua dari kita sadar bahwa pendidikan bukanlah kebutuhan tambahan semata, melainkan merupakan mata pisau kehidupan seseorang? Apakah masyarakat ngeh untuk memposisikannya demikian? Wajar rasanya jika masyarakat berpikiran pendidikan adalah barang ‘mewah’, mengingat mereka tidak pernah melihat dengan ‘kacamata pendidikan’ tentang apa nilai tambah signifikan dari mengenyam pendidikan. Bagaimana mereka bisa tahu kalau mereka tidak pernah merasakan? Bagaimana kepercayaan masyarakat akan kebutuhan pendidikan dapat terbangun tanpa pengondisian tertentu? Bagaimana cara kita meyakinkan bahwa pengorbanan untuk pendidikan adalah investasi berharga?

Sudah seharusnya, secara sadar kita mereposisi pendidikan sebagai kebutuhan primer. Tanpa penyamaan urgensitas pendidikan, kita bisa jadi akan selalu serba salah dalam menyikapi atau mengambil kebijakan dalam hal pendidikan. Kita butuh semua elemen sadar dan bergerak. Kita butuh semua elemen merasa kebutuhan yang sama. Kalau kita ingin bersaing dan menjadi bangsa mandiri, jangan posisikan pendidikan sebagai kebutuhan tersier atau sekunder, tetapi bangunlah ia menjadi kebutuhan primer. Setelah itu, kita bisa mulai bergerak bersama untuk saling membebaskan.

Advertisements

10 responses to “Gimana ceritanya kalau pendidikan jadi barang tersier?

  1. miris..
    klo akhirnya skolah jd kebutuhan premier,
    sedangkan hp dan tv skrg jd kbutuhan skunder..

    bahaya juga klo akhirnya masyarakat jd berpikir instan untuk sgala sesuatunya,

    padahal maksudnya kita sekolah kan,
    agar kita bs berpikir lebih lama,cermat dan menganalisis terhadap masalah yg kita hadapi
    hingga akhirnya kita bs meminimalisir kesalahan yg mgkn terjadi

    gmn kita bs merubah semuanya?
    ga hanya wacana saja,
    bukankah bangsa kita cuma bs berwacana?

    seperti yg lo tulis
    di “jadi, kita pengomentar sejati?”

  2. Jadi inget gua waktu ketemu ama Pak Lendo (lendo sapa gua lupa :d ). Dia bilang di sekolah alamnya gak ada yang namanya pendidikan gratis. kalau pendidikan digratiskan orang jadi gak ngehargain. Yang di buat konsepnya pendidikan “adil”. Maksudnya dia mencharge orang sesuai kemampuan. Kalau berpenghasilan rendah ya segitu pula biaya pendidikannya.

    Kalau menurut saya lagi. Tingkat kebutuhan entah itu primer atau sekunder atau pun terstier sekarang ini berubah kok. Tergantung kebutuhan manusia itu sendiri dan dilihat dari kaca mata mana. Kalau ekonomi jelas sandang,makan,papan itu urutan pertama, tapi kan bagi orang yang benar- benar haus ilmu bahkan makan dan papan bisa dikesampingkan olehny orang tersebut.

    Jadi yang harus di edukasi saat ini merupakan pentingnya pendidikan bukan masalah ekonomi

  3. ya memang nasib pendidikan di Indonesia belum jauh beranjak dari keterpurukan. akibat pemerintag belum mau memperhatikan pendidikan. inginnya semua instan. banyak pejabat meraih titel yang mentereng didepan dan dibelakang nama dengan jalan pintas alias dibeli dengan uang.
    akibat campur tangan IMF dan Bank dunia negara Indonesia segala macam aturan di atur oleh mereka, tragis memang.
    banyak peneliti asing menjadikan penelitian sebagai laboratorium untuk kepentingan negaranya. tujuannya ya menjajah dengan pemikiran yang lebih dahsyat pengaruhnya. maka jangan heran yang memimpin ekonomi pemerintahan sekarang dikuasai oleh kaum penganut pasar bebas lupa memperhatikan kepentingan bangsa.
    maka jangan aneh pendidikan tinggi menjadi barang mewah. semua PTN sekarang juga biaya SPP jutaan rupiah. maka beruntunglah yang bisa sekolah tinggi dengan mensyukuri. sebagai tanggung jawab moral jika ada yang diberi kecukupan minimal menjadi orang tua asuh bagi saudaranya yang tidak sanggup membiayai sekolah. Mudah-mudahan ya masih banyak yang peduli untuk membantu. tidak ada cara lain untuk meningkatkan kualitas hidup dengan pendidikan yang layak secara komprehensif. tentu butuh perjuangan maksimal untuk mewujudkannya. wallohu’alam

  4. topik pendidikan emang selalu menarik… pendidikan mungkin bukan segalanya, tetapi segalanya bisa dimulai dengan pendidikan.

    pertanyaan dasar, sudahkah pendidikan yang kita punya sekarang (walau belum semua orang menikmati) sudah membebaskan? apakah pendidikan sudah membuat orang untuk mencoba membebaskan pikirannya, untuk tidak lagi terkungkung dengan tradisi kolot yang tidak masuk akal? benarkah pendidikan itu membebaskan? koruptor, orang yang punya jabatan lalu menyalahgunakan jabatannya itu, jelaslah mereka orang yang berpendidikan. apakah mereka sudah terbebas? bebas untuk mengambil uang rakyat?
    jadi teringat lagi penggalan dalam Bumi Manusia, “Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sejak dalam pkiran, apalagi dalam perbuatan.”
    kalau sudah begini, sudahkah para koruptor itu terdidik? bingung.
    sepertinya memang ada yang salah dengan sistem pendidikan kita. jadi teringat lagi suatu tulisan dalam sebuah kaos, “Sekolah itu candu! duduk, diaam, mencatat…sekolah mencetak pejabat, sekolah juga mencetak penjahat”
    hah.

  5. menurut saya Maslow tidak memasukkan pendidikan disitu karena maslow memandang “Kebutuhan” itu sesuatu yang beda. apapun yang dirangking maslow dalam daftar kebutuhan itu adalah hal yang bersifat physical (meskipun rasa aman, tenteram itu juga merupakan turunan dari “place” dan “facilities”). jadi mungkin maslow memandang pendidikan bukan kebutuhan, namun merupakan suatu hak fitrah pada setiap manusia yang lebih pada pembentukan “inner physic” dan “dinamic asset”.(haduuhhh saya jadi bingung sendiri…hahaha)
    intinya ya sama aja ketika maslow tidak memasukkan “udara(bernafas)” sebagai kebutuhan utama disitu. iya khan?? hehe

  6. astaga! maslow!
    gw baru nyadar ga dimasukkin ya pendidikannya??

    ayo! ayo! murahkan pendidikan, supaya ITB kaya akan anak negeri, anak petani, anak nelayan, anak buruh pabrik!!
    sudah bosan awak ngeliat ledakan populasi mobil di ITB, bosan dengar celotehan “malem ni dugem dmana?” ato “gw tunggu lu d starbuck ntar malem”

  7. bingung ni kak sha…

    mau dibawa kemana ya negeri ini…..

    dari minyak hingga akar wangi kita tergantung pada asing

    apalagi pendidikan………
    sektor riskan yang seharusnya menjadi prioritas utama justru kian diabaikan….

    hohoho… banyak pr!

  8. Kalau begitu, ITB suatu saat akan jadi lembaga pengajaran, bukan pendidikan.
    gw pernah berpikir seperti ini. jika ingin merubah sasuatu kita harus berada di puncak sesuatu itu. Jika ingin merubah negara ini, kita harus berada di puncak.
    Jadi, siapkah kita?
    @hanif: sama, gw juga udah muak ngeliat kampus sekarang dipenuhi oleh mobil, sabuga dan tamanasri macet. gw muak akan kemanjaan mahasiswa ITB sekarang.

  9. iye…mari hidup sehat!hmm, kasian bandung,,,kasian burung-burung yang mulai berhenti berkicau, karena kalah saing sama suara knalpot…beuh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s