Gila

KOMPAS/AYU SULISTYOWATI
Belasan perajin perak Bali demo di halaman kantor DPRD Bali. Mereka
menuntut perhatian anggota dewan rakyat agar peduli nasib mereka yang di
jajah asing dengan mematenkan sejumlah hasil karya mereka.

Artikel Terkait:
Perajin Perak Bali Protes
Banyak Perajin Perak Jadi Tukang Batu
JUMAT, 12 SEPTEMBER 2008 | 14:47 WIB
DENPASAR, JUMAT- Malang benar nasib Ketut Deni Aryasa, perajin perak
asal Bali. Ia dituding menjyiplak salahsatu motif perusahaan perak milik
asing, PT Karya Tangan Indah. Deni Aryasa bahkan telah diseret ke meja
hijau dan dituntut dua tahun penjara.

“Motif yang saya gunakan ini adalah milik kolektif masyarakat di Bali,
yang sudah ada sejak dulu. Bukan milik perseorangan, tapi mengapa bisa
dipatenkan pihak asing,” kata Deni Aryasa, yang ditemui di rumahnya
di Denpasar, Jumat (12/9).

Deni Aryasa dituding meniru dan menyebarluaskan motif fleur atau bunga.
Padahal motif ini adalah salah satu motif tradisional Bali yang kaya
akan makna. Motif serupa dapat ditemui di hampir seluruh ornamen seni di
Bali, seperti gapura rumah, ukiran-ukiran Bali, bahkan dapatditemui
sebagaimotif pada sanggah atau tempat persembahyangan umat Hindu di Bali.

Ironisnya, motif tradisional Bali ini ternyata dipatenkan pihak asing di
Direktorat Hak Cipta, Direktorat Jenderal Hak Kekayaan
Intelektual Republik Indonesia pada tahun 2006 dengan nomor 030376. Pada
surat keputusan Ditjen Haki, tertulis pencipta motif fleur adalah Guy
Rainier Gabriel Bedarida, warga Prancis yang bermukim di Bali. Sedangkan
pemegang hak cipta adalah PT Karya Tangan Indah milik pengusaha asal
Kanada, John Hardy.

Dengan tudingan melanggar hak cipta, Deni Aryasa kini dituntut dua tahun
penjara. Bahkan Deni sempat ditahan selama 40 hari di LP Kerobokan Bali.
Kini Deni menjalani tahanan rumah. “Sayamungkin satu-satunya orang yang
dituntut melanggar hak cipta yang pernah ditahan selama 40 hari,” kata
Deni Aryasa.

Peradilan kasus hak cipta ini akan dilanjutkan pada Rabu (17/9)
mendatang di Pengadilan Negeri Denpasar dengan agenda pledoi atau
tanggapan terhadap tuntutan jaksa.

Motif fleur ini juga telah dipatenkan di Amerika Serikat, sehingga kini
perajin perak di Bali yang menggunakan motif yang sama pun terancam ikut
terjerat pelanggaran hak cipta. Asosiasi Perajin Perak mencatat terdapat
sedikitnya 800 motif perak tradisional Bali yang telah dipatenkan pihak
asing di Amerika Serikat.

tidak bisa menunggu lagi.

lakukan sesuatu. dengan kepala dingin, hati tenang, dan langkah yang nyata..

Indonesia berhak untuk terbang tinggi!!!

Advertisements

3 responses to “Gila

  1. hi shana, iya aku juga prihatinnn banget denger berita ini bbrp hari yg lalu.. tega banget sih mereka?

    menurutku harusnya menteri kebudayaan seyogyanya harus lebih melindungi karya2 bangsa.. supaya mereka gak terkungkung lagi kreativitas dan haknya..

    makanya, aku jadi pengen kerja di Bali (leh? ga nyambung.. hihihi) cheers! eh link ke blog aku ya :))

  2. @Tri Basoeki Soelisvichyanto

    sebuah komentar yang bagus dan menusuk.

    Eniwey. sempet mikir juga dengan beberapa temen, kalo dipikir – pikir bangsa ini lebih mikirin bati bisa dijual dibanding patent itu sendiri.

    Melirik postingan yang tentang pengomentar sejati. Lalu bisa apa kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s