tutur vs tulis

suatu saat di tempo hari, saya bertemu dan berdiskusi singkat dengan seseorang. beliau menceritakan dengan sedemikian rupa bahwa budaya bangsa Indonesia asli adalah bertutur, bukan menulis. bertutur = bercerita. mulai dari Wayang Jawa sampai Pantun Minang adalah sejumlah cara bertutur khas setempat sebagai kisah yang diwariskan secara turun-temurun. orang tua jaman dahulu mendidik anak-anaknya lewat gurindam atau nyanyian teman tidur yang sarat dengan nasihat. kisah para raja-raja justru disajikan lewat tembang, tarian, maupun teater lokal yang menggambarkan dengan cantik perjuangan di jaman tersebut. bagaimana dengan karya tulis? ternyata jumlah kitab atau prasasti masih kalah jauh dengan jumlah cerita dan kisah yang berseliweran dalam kehidupan sehari-hari. aksara asli Indonesia pun tak hayalnya merupakan adaptasi dari aksara India, yang tercatat keberadaannya mulai abad ke-4. ada apa dibalik budaya bertutur ini? apakah jauh sebelum aksara dikenal, sebenarnya budaya Indonesia pun sudah jauh berkembang? apa yang benar-benar terjadi di masa lampau?

hipotesis ini pun didukung dengan kecenderungan sulitnya berkomunikasi ketika hanya menggunakan tulisan saja. entah kenapa, tampak sebuah kesepakatan baru afdol kalau sudah ada tatap mukanya. lain berlakunya apabila sekedar deal lewat surat atau sms belaka. segalanya pun terkadang lebih mudah ketika bertemu dengan orangnya langsung daripada diwakilkan lewat surat resmi. menarik.

tergelitik ketika mengingat bahwa saya pun bukan orang yang rutin menulis. lihat saja, pernah di suatu ujian tengah semester, dosen saya pusing tujuh keliling karena tidak mengerti dengan apa yang saya tulis di kertas ujian. percaya atau tidak, saya kemudian menghadap, dan kemudian menjelaskan satu-persatu tentang apa maksud dari kata-kata yang saya tulis saat itu. dan hasilnya, dia paham!hahaha..bayangkan saja, kalau setiap ujian saya harus menjelaskan demikian, berarti berapa waktu yang Pak dan Bu Dosen harus sediakan untuk berdiskusi khusus dengan saya. alamak, bisa ngobrol terus itu mah.

kecenderungan bercerita ini mungkin salah satu alasan kenapa sejarah Indonesia tidak pernah terdokumentasikan dengan rapi, seperti halnya kitab-kitab di Cina atau di sejumlah tempat lainnya. lihat saja, untuk rapat skala kampus pun dibutuhkan kesabaran luar biasa dari para notulen untuk kemudian mendengar dan merapikan proses diskusi hanya untuk memastikan tidak ada hal baik yang terlewat dari forum tersebut. meski demikian, tidak banyak pula yang cukup sabar untuk menuliskan satu-per satu logika demi logika yang bertarung di dalamnya, sehingga seringkali miskom terjadi. efisiensi bisa jadi mencapai separuh dari yang seharusnya.

yang menakutkan, kalau benar halnya Indonesia tidak terbiasa menuliskan dengan lengkap dan rapi akan ceritanya sendiri, jangan-jangan sejarah yang selama ini kita kenal pun belum cukup objektif  untuk menggambarkan kondisi dulu yang sebenarnya.

apakah memang kita tidak terbiasa atau tidak terbudaya untuk merekam sejarah dalam bentuk tulisan yang padu? jangan-jangan masih ada banyak hal penting yang terlewat dari masa lampau, sehingga kita tidak pernah bisa benar-benar belajar dari sejarah yang lengkap? kira-kira cerita macam apakah yang akan berperan sebagai sejarah untuk dikenang anak-cucu kita 50 tahun ke depan?

kalau demikian adanya, sejarah adalah tentang cerita. kalau kita ingin sebanyak mungkin orang belajar dari sejarah, salah satu amunisi yang harus dilengkapi adalah keabsahan sejarah itu sendiri. melengkapi cerita.

well, tidak semua kacamata melihat hal yang sama. tidak semua kacamata pun merekam hal yang sama. kayaknya emang harus mulai rutin menulis, atau disempatkan untuk menulis. saya tidak tahu apakah relevan atau tidak, tapi mungkin menulis akan membantu melengkapi puzzle narasi besarnya ketika disusun suatu saat nanti. berarti, tulisan itu menjadi penting adanya. penting adanya untuk bercerita.

kalau bercerita adalah untuk hari ini, maka menulis adalah modal untuk bercerita di masa depan..

terima kasih banyak untuk para notulen terhebat di kampus itb..(this is for you guys)

Advertisements

6 responses to “tutur vs tulis

  1. ya memang benar masyarakat indonesia masih masyarakat bertutur dan kalau amatan saya bangsa kita termasuk bangsa yang sering bergosip ria contohnya acara tv banyak yang menampilkan gosip-gosip yang teu puguh yang gak penting-penting amat dan akhirnya kalau sering no0nton tv lupa membaca dan menulis dan daya kreatif semakin tumpul karena kita fasip bukan yang aktif. menurut pakar komunikasi dari Fikom Unpad dan FSRD ITB bapak Deddy Mulyana (lihat buku komunikasi suatu pengantar) banyak menguraikan komunikasi lintas budaya membandingkan salah satu budaya menulis dengan budaya tulis pengaruhnya yang ditandai sering berkumpul bersama-sama, inisiatif dari sendiri tidak ada, bersifat patron klien, dan sebagainya. memang kita tidak bisa meniru yang positif yang menjajah indonesia, mereka rajin mengunpulkan arsip-arsip berbagai kebudayaan di indonesia yang hingga sekarang tersimpan rapi di Leiden negeri belanda. memang menulis itu butuh pengorbanan waktu, materi, serta tak kalah pentingnya adalah proses. memang butuh waktu generasi yang senang menulis sepert5i tersedia fasilitas buku bacaan yang menarik, iklim pendidikan yang demokrastis, butuh belajar yang menyenangkan tanpa ada rasa takut jika berbeda pendapat, dll.
    selamat berjuang menulis blogger dan makasih sebelumnya kamu sudah banyak menulis blogger mudah-mudahan saya terpacu dan terispirasi untuk menulis apapun tanpa takut salah.
    wassaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s