Apakah kita siap bergerak?

Pola pikir manusia terbentuk berdasarkan pengalaman atau harapan yang ingin dicapainya di masa depan. Mana yang lebih mudah, pengalaman atau melihat masa depan? Saya rasa secara tidak sadar kita akan menjawab opsi yang pertama. Manusia lebih mudah percaya dengan pengalamannya, maupun pengalaman orang lain, daripada masa depannya. Apakah kita tidak sadar, bahwa ada perbedaan yang tipis antara pengalaman, trauma, maupun kisah kejayaan. Dimana kadang manusia menghardik sesuatu hanya karena dia pernah mengalami kejadian buruk dengan hal tersebut, dan kemudian berjanji tidak akan pernah mengulangi proses tersebut lagi, dengan harapan tidak akan pernah mengalami emosi yang sama lagi. Nah, apa bedanya dengan trauma.

Sebaliknya, untuk pengalaman senang manusia cenderung ingin mengulanginya sehingga seringkali kita lihat bahwa pengalaman indah cukup untuk membuat seorang bertahan di suatu tempat. Dan proses pengulangan ini, apakah kekal selamanya? atau nantinya tiba di saat-saat jenuh.

Mari kita lihat sisi sebaliknya, untuk melihat masa depan, manusia pun terpatron dengan pengalaman-pengalaman orang yang pernah melakukannya. Selalu, sulit untuk keluar dari kotak. Perasaan khawatir, cemas, takut, atau semangat berlebihan menjadikan kita enggan dan memilih untuk tidak menerobos apapun.

Apakah saat ini kita mau bergerak? Saya yakin kita mampu. Tembok besar di depan bukanlah penghalang, melainkan bentuk pemastian apakah kita benar-benar ingin mendapat apa yang ada dibelakangnya. Tembok disana akan membuat orang yang tidak benar-benar menginginkannya menyerah dan pergi. Tapi tidak dengan kita. Kita pasti bisa. Karena kita mau dan berusaha untuk menjadi mampu.

*akhirnya…setelah sekian lama g nulis..hehe

Advertisements

6 responses to “Apakah kita siap bergerak?

  1. akhirnya ibu presiden update blog juga 😉
    semoga selalu amanah dan semangat walau halangan rintangan menempuh!!!! 😀 *kyk lagu aja*

  2. Terus bergerak, terus ber-proses, terus dinamis
    memang ‘indah’, bukan! sangat ‘indah’…
    Ok Ok amat sangat ‘indah’

    Ttp entah knp ada kalanya berhenti sejenak,
    melihat, merenung, belajar, berdiskusi sejenak…
    sama pentingnya dgn eksekusi pergerakan

    Mungkin utk meyakinkan kembali apabila tembok didepan bukan rintangan tp tantangan,
    mungkin utk tersenyum sebentar kemudian berbalik, atau berbelok ke jalan lain
    atau sangat mungkin terdiam, menyesal, tertunduk…

    Pergerakan adalah sebuah pilihan dr meleburnya perhitungan, semangat & kepercayaan

    Karena suatu perubahan itu belum tentu memberikan hasil yg lebih baik,
    Tetapi utk mencapai segala sesuatu yg lebih baik pasti membutuhkan “perubahan”

  3. Muda adalah baik..mengalami adalah sesuatu yang memberikan pemahaman lebih baik.Tetapi kadang,mengambil jarak adalah opsi yang masuk akal pada beberapa waktu yang sulit.

    Bisakah kita bertahan? Pada sebuah garis tipis antara yang getir dan tawar..

    Pada sebuah keniscayaan yang tak membawa aku atau kamu pada posisi yang lebih baik lagi.

    Kita adalah muda..
    dan merasa bisa belum menentukan apakah kita bisa.

    Karena semua dimulai dari sebuah kata percaya.Maka berikan yang terbaik yang kamu punya.Mungkin akan kita ketahui esok..bisa juga lusa atau 2 dekade kemudian.

    Apa yang kamu tulis hari ini adalah sebuah pakta mengenai cita-cita.Mengenai yang terjadi di balik meja,atau apapun yang menyertai perwujudan cita yang tertulis disini tak usah dirisaukan,,meski tak baik untuk dihiraukan,,

    “selamat untuk yang muda”

    karena doa tak akan cukup, dan kata-kata mungkin hanya sampah,, karena energi adalah esensi,,dan hanya cara ini yang saya tahu,,smoga kamu bisa menerimanya.

    salam

  4. wah akhirnya ketemu juga ama bu presiden. apa kabar bu ???

    memang ketika kita bicara tentang keinginan “bergerak” setiap orang punya defenisi masing-masing. tapi suatu yang pasti adalah bergerak itu pindah posisi, dari posisi a ke b. atau bisa juga kita melihat sebagai vektor perpindahan. dari ^a ke ^b, yang pasti ga disitu-situ aja.

    ini salah satu pandangan mungkin melihat ibu ini maju jadi presiden, ko selalu cowok ? gitu y mba !!
    tapi kita lihat ke depan y bu gimana progressnya

    bergerak itu dalam ekstrimnya adalah harus berani keluar dari “safety zone”

    memang benar tembok besar di depan bukanlah penghalang, (tapi tantangan) melainkan bentuk pemastian apakah kita benar-benar ingin mendapat apa yang ada dibelakangnya

    tapi dengan ini saya jadi keingat signature di rileks “sangkar besi tidak akan mengubah burung rajawali menjadi burung nuri

    kalo portal besi

    kalo skorsing

    kalo ancaman DO”

    ha……..ha

    (kadang diam kadang tersenyum dengan arti sebuh defenisi)

    main juga ke rumah saya ya bu presiden

    http://rajasimarmata.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s