Hitam Putih vs abu-abu

Manusia hitam, manusia putih. Kebayang ga sih, kalau dunia menjadi hitam putih saja.
Apapun kondisinya, harus memilih dan menjadi kondisi serba ekstrem. Atau, keadaan dimana orang sibuk membicarakan untuk memilih merah atau biru, tanpa memberikan opsi ungu sebagai pilihan ketiga.
pernah terlibat pembicaraan seru soal benar-salah atau baik-tidak baik. latar belakangnya simpel: kenapa ya orang sulit untuk kompromi saat rapat ppab? (ppab=kaderisasi.red)
ujuk2 ngobrol, ternyata sampailah kami kepada clustering dasar pemikiran seorang manusia menjadi 2 golongan tadi.ciri-ciri gampangnya, orang benar-salah cenderung menyalahkan atau membenarkan salah satu alternatif. Bagi tipe ini, hanya ada satu kebenaran dari berbagai alternatif yang ditawarkan. Sementara itu, orang baik-tidak baik cenderung ‘bijak’ memutuskan bahwa selalu ada jalan yang memenuhi persyaratan kedua belah pihak.
Coba kita analisis beberapa kasus. Kasus A, kejadiannya si benar-salah bertemu dengan rekan benar-salah juga pada suatu rapat. Kalau pendapatnya sama, tentunya tidak ada masalah. Masalah baru terasa saat keduanya memiliki pandangan yang berbeda.wah, bisa2 rapatnya tidak akan beres hingga tujuh turunan, since each one of them kekeuh pisan..hehehehe
kasus B, giliran baik-tidak baik ketemu sejenisnya. idem, nothing’s matters if they have the same thought. Kalau beda, pembicaraan tipe kedua orang ini mungkin malah melebar kemana-mana, dan tidak fokus. Kenapa bisa begitu?yah, karena bagi mereka, tidak ada yang sangat benar maupun sangat salah. yang ada hanya bagaimana mengoptimalkan kebaikan yang diperoleh dari menjalani salah satu alternatif integrasi. Prosesnya bakal lamaaaaaa banget, tapi dijamin, tidak ada yang bisa menentang hasilnya. wong berawal dari kebaikan ko..
lain lagi kalau BS ketemu dengan BTB.waah,ini dia.repot euy..hehehehe.bayangkan, dengan konsep pemikiran yang berbeda, rapat pun akan dipenuhi dengan perdebatan yang sulit untuk menemukan kesepakatan. lihat saja, saat BS cenderung memilih opsi A atau B atau C atau D, si BTB sibuk menggabungkan dan mencari optimal dari keeempatnya.
Horoynya, kasus C ini yang sering kejadian,hm, paling g di beberapa rapat ppab waktu itu. Dengan berjuta alternatif metodologi yang ditawarkan, beberapa oknum BS vs BTB pun bergantian adu argumen hingga terlelah sendiri.
Tidak ada yang salah tp dengan 2 kubu besar tersebut. Ini cuma masalah cepet/lamanya menyambungkan cara pikir antara manusia yang berbeda. Serunya, treatment penyampaian ke 2 tipe ini membutuhkan 2 tipe strategi yang berbeda pula. Jangan harap anak BS mau kompromi untuk menggabungkan konsep ‘non’ mereka untuk mendapatkan win-win solution. Begitu pula dengan anak BTB yang lebih tertarik untuk menjadikan semua alternatif mungkin dilakukan dengan kondisi tambal sulam alternatif yang ajaib.
Jadi, Anda sebenarnya tergolong yang mana? Keras kepalanya BS atau lebih ke kurang berpendiriannya BTB?hahahahaha…

*untuk seorang teman yang baru memilih abu-abu. Gw sendiri msh menganut cinta grayscale, untuk membuat hitam putih tidak segitu sederhana dan kentalnya, dan untuk membuat dunia menjadi lebih manusiawi dan lebih beragam…

_290107

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s