kalau iseng ditanya,,jadi kita bisa ngapain untuk mandiri?
versi energi, pangan, pendidikan:
kembangkan entrepreneurship
baitul mal
pendidikan karakter
pendidikan calon ibu
menanam sendiri di kebun
ekspansi pertamina ke negara lain
takakura
optimalisasi energi alternatif
kenapa susah menjangkit gagasan?
inspirasi datang tidak diduga, suatu saat ketika bengong di kamar, ketika nangkring di bawah pohon, ketika tertegun melihat kecengan dari kejauhan.
wow, so what’s the hardest thing to have it?
Atas nama pasar semuanya begitu klise
Atas nama pasar semuanya begitu banal
kadang kita terlalu panik untuk mengingat ‘bagus tidaknya’ ide kita tanpa sadar bahwa akhirnya kita tidak berani melontarkan ide itu sendiri..
tidak perlu nunggu ide hebat untuk bergerak,
tancap saja, tapi BUKA TELINGA untuk mendengar masukan untuk sintesis terbaik!
Bebaskan Ibu Prita Mulyasari!

Kita tolak kesewenang-wenangan, kita perjuangkan kebebasan berpendapat…
Ibu dari dua balita itu dipenjara sejak Rabu 13 Mei lalu, terpisah dari si bungsu berusia setahun tiga bulan yang masih memerlukan ASI dan si sulung yang baru tiga tahun. Dia menjadi tersangka pencemaran nama baik. Hanya karena e-mail berisi keluhan tentang pelayanan rumah sakit.
Tentang Kasus Prita Mulyasari
Dikutip dari berbagai sumber:
Ibu Prita, 32 tahun, hanyalah seorang ibu rumah tangga dengan dua anak yang masih balita.
Suatu hari Ibu tsb sakit dan berobat ke Rumah Sakit Omni Internasional, Tangerang. Tak disangka malah mendapat perlakukan tak layak saat pengobatannya. Hal ini membuat dia berkeluh-kesah melalui email yang dikirim ke teman-temannya dan terkirim pula ke Surat Pembaca Detikcom.
Tapi, gara-gara email itulah, ia kemudian digugat oleh Rumah Sakit Omni. Ia dianggap mencemarkan nama baik rumah sakit itu. Prita kalah di persidangan perdata, dan sedang proses naik banding. Ia juga menghadapi persidangan pidana dan dijerat Pasal 27 Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Topik bahasan mengenai ibu Prita ini banyak diperoleh dari:
Surat Kabar
- Menggugat Surat Elektronik (13 Okt 2008) http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/10/13/HK/mbm.20081013.HK128451.id.html
- Kata “Penipuan” Menjerat Prita (29 Mei 2009) http://www.tempointeraktif.com/hg/hukum/2009/05/29/brk,20090529-178688,id.html
- YLKI: RS Omni International Arogan (30 Mei 2009) http://tempointeraktif.com/hg/layanan_publik/2009/05/30/brk,20090530-178951,id.html
- http://korantempo.com/korantempo/koran/2009/06/01/headline/krn.20090601.166823.id.html
BLOGS
- http://ndorokakung.com/2009/06/01/seruan-pecas-ndahe/
- http://tikabanget.com/2009/06/01/satu-lagi-korban-uu-ite-ituh/
- http://blog.ladung.web.id/01/06/2009/budaya-sopan-dan-kritik-yang-haram/
- http://sanjaya.blogdetik.com/2009/06/02/yang-curhat-yang-dihukum/
- http://www.mediakonsumen.com/istimewa-05.htm
Cause on Facebook
informasi lebih lanjut, dapat dilihat di ibuprita.suatuhari.com
dukung dengan memberitahukan dan membantu yang kita bisa..
tawaran cita-cita Indonesia = kemandirian bangsa!
my mail on Friday, January 30, 2009 12:56 AM
Asw,
apakabar nih semua??
hehe..mau cerita dikit2, buat org2 yang bertanya2 kenapa saya mengurus akhir2 ini…iya..jd ceritanya lagi harot2nya sebarin meme tentang GKN…Gerakan Kebangkitan Nasional ini jadi cita2 yang diusung teman2 km itb skrg…sebuah gerakan yang kami bentuk dengan dasar berpikir masa depan yang harus kita kejar, sebagai bangsa yang berdaulat. (di attach juga sejumlah materi untuk di baca2)
Kalau temen2 sepakat, kita bikin yuk jadi indonesian dream… sekenceng kata KEMERDEKAAN. .atau REFORMASI… dan sekarang saatnya bergerak untuk KEMANDIRIAN. .
GKN pada dasarnya pake konsep opensource, collaborative communities, inisiatif berbasis trust dan integritas lewat metode penularan virus akal budi (meme). Cara pandang ‘GKN” adalah melihat bangsa Indonesia dibangun dengan tiga golongan besar yang saling beririsan, yaitu masyarakat ekonomi (pengusaha, pemodal), pemerintah (regulator), serta masyarakat sipil (yang biasa2 aja,kita2 ini). ketiganya saling beririsan dimana tiap irisan punya perannya masing2 yang saling menjaga kesetimbangan. irisan dari ketiganya, adalah perguruan tinggi, dimana kita memandang PT harusnya menjadi pusat pengetahuan, pusat kebudayaan, yang berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat di sekitarnya. dengan demikian, PT diberdayakan sebagai think tank negara, sekaligus sebagai pemecah persoalan bangsa. dan kampus mampu mengakses ketiga elemen tersebut.
Konsep ini menjadi radikal karena orang tidak pernah percaya bahwa kita bisa menjadi bagian dr perubahan besar, jika kita benar bergerak. orang takut, karena tidak pernah mendapatkan ‘privilledge’ untuk menentukan masa depannya sendiri – lihat sejarah Indonesia dan penjajahan, serta proses demokrasi. low trust society Indonesia membuat masyarakatnya (baca: 3 elemen tsb) terbiasa berprasangka dan menebarkan kecurigaan psikologis. ditambah dengan inisiatif dan kreativitas yang dimatikan dengan pendidikan ‘mindset pekerja’ – baca sejarah pendidikan Indonesia – , terlihat mustahil bagi kebanyakan orang untuk menjadi aktor utama dari perubahan – ini menjelaskan kenapa si orang Indonesia latah – sehingga,tugas kita menjadi dobel, yaitu sambil mentransformasikan masyarakat jadi high trust society, sekaligus mendidik mereka berjiwa leader. kita harus counter semua energi negatif yang mungkin kini sering kita dengar di’hadiah’kan untuk Indonesia. Dengan energi positif, kita bilang : kita bisa maju karena emang kita punya Indonesia!
Selama ini kita selalu diperdaya dan dibuai dengan kemudah2an dan fasilitas yang secara tidak langsung membuat kita jadi tergantung sama bangsa lain. padahal, Indonesia punya semua untuk hidup berkecukupan, punya SDM yang kritis dan hebat, dan kita punya tanah air (inget jawabannya Agni si putri Indonesia pas pemilihan?dia bkin kita inget, kalau cuma kita yg punya istilah tanar air. super….) masalahnya, hal2 macam itu bkin kita jadi inferior. root of all evil. hehehe..terjebak dalam paradoks bahwa : Yah, kita tidak mampu! Untungnya, krismon dunia saat ini bisa jadi entry point yg super bagus. dgn dunia yang kacau, kita bisa mulai masukin peluang untuk menggiatkan pede dgn produk dan inovasi bangsa kita sendiri. karena kita emang bisa… tapi kita g pernah yakin dan trus mencoba.
Ada byk contoh ketergantungan2 yang g penting, tapi nyata. contoh ketergantungan : tiap tahun kita impor 6.5 juta ton gandum yg emang bukan produk dalam negeri, untuk bahan baku mie dll. inget berapa sering kita makan Indomie? nah…coba banyangin kalau kita bisa switch ketergantungan gandum kita ke tepung tapioka atau apapun yang bisa diolah juga jadi bahan mie..hehe seru kan? berhubung basisnya teknologi, pendekatannya lewat teknologi. cuma, harus ada juga manuver2 dari segi hukum, ekonomi, dll…karena kemandirian hanya terwujud dengan sinkronisasi yang baik lintas bidang lintas perilaku lintas tata masyarakat. jadi, GKN ini maksa anak2 itb untuk gaul dan ngajak kerjasama lintas keilmuan, dan bahkan lintas elemen (pemerintah, masyarakat sipil, swasta, dll) intinya… kita membangun masyarakat yang Inovatif dan Kreatif.
start with ideas…
ur ideas…
our ideas..
So, what’s ur bright ideas?
Mari kita jalanin bareng2 yuk.dari semua lini.dengan soul yang sama: kemandirian Indonesia. dgn GKN, tiap daerah dan wilayah adalah penting, tiap orang adalah penting, tiap gagasan adalah penting. karena itu kita butuh kalian untuk ikutan serta.33 propinsi. 13rb an pulau.ya, kita pasti bisa.menentukan masa depan kita sendiri. mau jadi seniman, artis, pengusaha, juru masak, atau apapun juga.karena kita ga pernah sendirian.
sebarin ya!!! boleh pake logonya, dan tularin semangatnya
wisuda juli jadinya agustus..yuhu..
karena bangsa menjadi besar ketika dia memang berusaha dan konkrit untuk menjadi besar
Wsw,
Shana
BHP : Skenario Liberalisasi Pendidikan Negeri Ini

BHP : Skenario Liberalisasi Pendidikan Negeri Ini
Kajian Lanjutan Mengenai Esensi BHP dan Kontradiksi Penerapannya
dengan Dunia Pendidikan Indonesia
Pengesahan RUU BHP menjadi Undang-Undang pada tanggal 17 Desember 2008 lalu menuai banyak protes dari berbagai kalangan, terutama mahasiswa. Banyak demonstrasi digelar dalam rangka menyerukan penolakan terhadap pengesahan RUU Badan Hukum Pendidikan tersebut.
Berbagai alasan dikemukakan banyak pihak sebagai rasionalisasi penolakan pengesahaan RUU BHP ini. Baik itu terkait dengan permasalahan pasal-pasal di dalamnya, maupun mengenai ketidaksiapan pemerintah dalam mengimplementasikan undang-undang tersebut dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Namun terlepas dari itu semua, dalam paper ini KM ITB akan menjabarkan alasan utama penolakan BHP ditinjau dari sisi filosofi pendiddikan dan esensi dari BHP itu sendiri. Hal ini dilakukan sebagai rasionalisasi lebih lanjut dari pernyataan sikap bahwa kami MENOLAK penerapan Badan Hukum dalam Pendidikan.
Selayang Pandang Filosofi Pendidikan Indonesia
Sebelum berbicara lebih jauh tentang BHP dan dampaknya pada dunia pendidikan Indonesia, terlebih dahulu kami akan mengingatkan kembali filosofi dan tujuan dari pendidikan negeri ini.
Pada pembukaan UUD 1945 alinea keempat disebutkan bahwa salah satu tujuan Negara Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupkan bangsa. Hal tersebut didetailkan lebih lanjut pada batang tubuh UUD 1945 pasal 31 ayat 1-5 yang mengatur mengenai masalah pendidikan di Indonesia. Pada pasal tersebut dikatakan bahwa:
- Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan
- Setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan Negara wajib membiayainya
- Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang
Demikian, pada pasal tersebut jelas terlihat tujuan pendidikan di Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Mencerdaskan kehidupan bangsa berarti memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh generasi bangsa untuk mengenyam pendidikan demi menjadi bangsa yang cerdas. Pendidikan akan mencetak generasi-generasi cerdas, tangguh dan berkarakter dalam rangka meningkatkan kualitas SDM yang akan menentukan kemajuan bangsa ini.
Bangsa cerdas adalah bangsa yang sanggup menyelesaikan berbagai permasalahan dirinya tanpa perlu bergantung pada pihak lain. Ia juga dapat mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki negaranya, baik SDA maupun SDM guna kepentingan dan kemajuan Bangsanya. Satu hal lagi, bangsa cerdas adalah bangsa yang memiliki kedaulatan penuh atas negaranya. Kedaulatan untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa adanya intervensi dari pihak lain, baik bentuk intervensi konkret maupun tersembunyi.
Itulah tujuan hakiki dari pendidikan Indonesia, dan sesuai dengan amanah konstitusi tersebut, Pemerintah berkewajiban untuk menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional guna mencapai tujuan pendidikan Indonesia.
Hal inilah yang perlu mendapat perhatian.
Lirik Lagu Malaikat Juga Tahu by Dewi Lestari
Lelahmu jadi lelahku juga
Bahagiamu bahagiaku pasti
Berbagi takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati
Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata
Setia hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri
Meski seringkali kau malah asyik sendiri
Karena kau tak lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya
Hampamu tak kan hilang semalam
Oleh pacar impian
Tetapi kesempatan untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Kupercaya diri.. Cintakulah yang sejati
Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya
Kau selalu meminta tuk terus kutemani
Engkau selalu bercanda andai wajahku diganti
Relakan ku pergi.. Karna tak sanggup sendiri
Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu.. Aku kan jadi juaranya
berbagi jendela
hmm,,
install IFEN, software kreasi anak HMIF yg luar biasa, membuat kita semakin senang berbagi agenda dan cerita..
atau
atau
keluarga mahasiswa itb di fesbuk…
ah..revolusi informasi…
semoga meme ini tersebar..
Gimana ceritanya kalau pendidikan jadi barang tersier?
Namanya juga tersier, berarti kebutuhan yang dikategorikan ‘mewah’. Tersier, berarti baru dipenuhi setelah kebutuhan primer dan sekunder terpenuhi. Ki Hajar Dewantara berujar bahwa pendidikan adalah membebaskan manusia. Pernyataan yang menarik. Kenapa dengan pendidikan manusia menjadi bebas? Apakah arti kebebasan dan hubungannya dengan kualitas hidup manusia?
Apa jadinya kalau kita tidak mengenal matematika? Tidak mampu untuk berhitung sederhana? Suatu pagi kita datang ke pasar, membeli 5 buah jeruk harga 450 rupiah per buah dengan membawa uang 3000 rupiah. Karena tidak tahu berapa 450 rupiah dikali 5, maka kita terima-terima saja saat diberikan kembalian 500 rupiah. Belum-belum, sudah rugi 250 rupiah. Padahal, tambah 200 lagi, kita bisa memperoleh 1 buah tambahan. Apakah kita menjadi manusia yang bebas?
Melihat kondisi aktual, pelajaran PPKn memang mengajarkan bahwa pendidikan adalah kebutuhan primer, namun sebagian besar masyarakat tampaknya masih memperlakukan pendidikan seakan-akan barang mewah. Pendidikan adalah barang istimewa, yang tidak semua kalangan berhak memperolehnya. Pemberlakuan RUU BHP, misalnya saja, bisa jadi memperkuat mindframe masyarakat perihal hanya yang kaya saja yang bisa sekolah. Sisi lain, pendidikan gratis pun mulai digembor-gemborkan. Namun, banyak anak jalanan yang coba untuk ditarik ke sekolah gratis, justru masih lebih memilih untuk kembali ke jalanan dan mencari nafkah. Apakah gratis menjadi solusi pendidikan kita? Apakah masyarakat sudah sadar bahwa pendidikan adalah kebutuhan primer? Mungkin gratis saja belum cukup. (more…)






