lequoaila

teknologi = canggih

Posted in Uncategorized by lequoaila on November 8, 2009

energy, water resources, food, forest, land, air

living creatures in mother earth

humankind and technology

wondering how we can collaborate it so earth will have a sustainable living

semakin mengerikan melihat tampaknya sumber daya alam terbarukan kini tidak lagi benar-benar terbarukan dan gratis. semuanya jadi beli. kenapa harus beli? karena ada transaksi. kenapa ada transaksi? karena katanya tidak semuanya punya, jadi saling mengisi.

kalau begitu, harusnya bisa barter kan? hehe. ayo negara bergeraklah. tugasmu nih jadi wasit kita semua :)

Indonesia ga boleh krisis pangan, energi, sumber air, udara, hutan dan lingkungan.
ga boleh pokoknya. dan manusia sekarang tidak boleh rakus dan menghabiskan hak manusia-manusia berikutnya.

Sabuga, Oktober 2009

Posted in Uncategorized by lequoaila on November 2, 2009

Yang terhormat,

Pimpinan dan Anggota Majelis Wali Amanat,
Pimpinan dan Anggota Majelis Guru Besar,
Pimpinan dan Anggota Senat Akademik ITB,
Pimpinan dan Anggota Dewan Audit ITB,
Rektor dan jajaran Wakil Rektor ITB,
Para Pimpinan Fakultas/Sekolah, dan seluruh Dosen ITB, Para Pimpinan Unit Kerja Akademik dan Unit Kerja Pendukung ITB,
Para Orang Tua/Wali, Keluarga,
Rekan-rekan seperjuangan Wisudawan – Sarjana, Magister, dan Doktor yang saya sayangi
Serta segenap Tamu Undangan yang berbahagia.

Assalamualaikum Wr. Wb.
Selamat berbahagia untuk kita semua.

Alhamdulillah, akhirnya kami lulus juga. Terima kasih sebesar-besarnya untuk Allah SWT yang telah memberikan rahmatNya, ilmuNya, kekuatanNya, cintaNya yang disalurkan dengan hebat, baik secara langsung, maupun lewat saluran-saluran terbaikNya : Bapak, Ibu, Pak Rektor, Para Guru Besar, Senat Akademik, dosen, karyawan, teman-teman sekalian. Akhirnya setelah dibekali secara luar biasa, kami dikembalikan lagi menjadi bagian dari masyarakat besar bernama Indonesia. Terima kasih karena kini kami memiliki panggilan tambahan “Sudah ST, Master, atau Doktor” dan tagih kami untuk senantiasa menjaga integritas titel-titel tersebut. Alhamdulillah.

Dunia ini tidak dibuat secara kebetulan. Dan peristiwa di dalamnya pun tidak mungkin sebuah kebetulan. Lahirnya kita ke dunia, siapa orang tua dan keluarga kita, lingkungan hidup kita, dan tentunya masuknya kita ke ITB juga bukanlah sebuah kebetulan. Selepas dari ITB, tibalah kita di titik penentuan akan peran apa yang akan kita ambil sebagai agen pengubah masyarakat. Fase kelulusan mengantarkan kita menentukan masa depan kita sendiri, yang tentunya juga bukan sebuah kebetulan.

Seperti Ibu Guru di sekolah dulu, pertanyaan favorit yang sering saya lontarkan ke teman-teman, terutama calon wisudawan adalah : “setelah lulus, mau kemana?”. Ada yang menjawab ingin kuliah, ingin kerja di perusahaan x, ingin berusaha, ingin menjadi dosen, dan sebagainya. Ada juga yang mencoba mengelak menjawab dengan mengalihkan topik pembicaraan, atau ada lagi yang hanya mengatakan ikut saja kemana arah angin membawa. Biasanya, saya bertanya lebih lanjut, demikian : “Kenapa memilih itu? Kenapa tidak yang lain? Kamu benar-benar suka itu?”. Dan untuk pertanyaan ini, seringkali menemukan kegamangan di mata rekan-rekan. Apa kira-kira yang membuat kita cemas? Apa yang kita cari dalam hidup ini? Apakah kita benar-benar menginginkannya?

Apapun itu, tentunya kita tidak akan menyerah dengan tantangan-tantangan yang ada bukan? Yang jelas, lahirnya cita-cita dan impian kita bukan suatu kebetulan, tapi bisa jadi adalah panggilan jiwa yang harus dibuktikan kebenarannya secara ilmiah.

Rekan-rekan wisudawan yang saya sayangi,

Mulai hari ini, kita akan menata penggalan puzzle masing-masing sehingga menjadi gambar lengkap yang tidak bisa dilepaskan keterkaitannya satu sama lain. Teman-teman wisudawan, ayo kita tentukan bidang yang kita gali, ayo eksplorasi dengan amunisi yang telah kita miliki agar kita mampu menjadi bagian dari solusi persoalan masyarakat serta meningkatkan kualitas hidup bangsa.

Menjadi bagian dari ITB merupakan anugerah, dan kita adalah orang-orang yang sangat beruntung. Kita diberikan akses kepada pusat pengetahuan terbaik, dosen-dosen yang baik, memanfaatkan fasilitas laboratorium atau studi yang relatif baik, bertemu dengan rekan-rekan yang bisa diajak untuk bertukar pemikiran-pemikiran ilmiah, dan berbagai hal lain yang hanya akan kita dapatkan dari ITB. Hal-hal yang oleh banyak orang terasa mustahil untuk didapatkan. Kondisi ITB memungkinkan kita mampu membangun visi kondisi ideal yang ‘seharusnya’ sekaligus melihat kondisi bahwa hari ini masih jauh dari ideal. Kita harus mengakui bahwa walaupun kita sering mengeluhkan kondisi ITB, kondisi jurusan kita, kondisi lab kita, kita jauh lebih beruntung daripada banyak orang di negara kita. Kita mengenal persoalan, sehingga kita tahu bahwa persoalan bisa diselesaikan.

Dengan segala keterbatasan yang ada, jangan sampai kita tidak bersyukur dan teralih dari panggilan jiwa kita sebagai insan ITB. Jangan sampai kita terlena, untuk fokus pada masalah kebutuhan pribadi dan melenakan predikat sebagai lulusan engineer, scientist, maupun seniman ITB. Jangan sampai kita tidak peka dan menyakiti satu sama lain secara tidak sengaja.

SKS telah ditempuh, kini saatnya mengecek kesiapan amunisi kita sebelum bersama-sama masyarakat bertransformasi menjadi lebih baik. Sudah cukupkah pengetahuan yang kita serap? Cukupkah wisdom dosen, guru besar, rektorat, karyawan, mahasiswa, maupun civitas akademika lainnya yang telah kita teladani? Cukupkah mental kita tertempa untuk menjadi pejuang, pelopor, pengabdi masyarakat yang unggul? Cukupkah rekan-rekan kita atau komunitas yang akan terus berjuang bersama dan saling mengingatkan untuk suatu cita mulia yang nyata?

Masihkah kita mengenal dekat persoalan bangsa saat ini? Apa yang terjadi di Gempa Tasikmalaya, Gempa Padang, maupun potensi bencana alam lainnya? Sudah tepatkah langkah-langkah penanganan yang diambil? Bagaimana mitigasi bencana yang tepat untuk mengantisipasinya? Apa yang harus kita lakukan dan siapkan?

Masihkah produk dasar kita bergantung pada impor? Bagaimana menghadapi keterbatasan energi, pangan, sumber daya air, kerusakan lingkungan, bencana alam, teknologi, maupun kesenian? Apa yang harus kita lakukan dan siapkan? Peradaban masa depan apa yang akan kita rancang dan bangun? Apa yang harus kita lakukan dan siapkan?
Apapun panggilan jiwa kita, dengan predikat lulusan ITB, sekarang kita menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari keluarga besar ITB.

Momen wisuda ini memang momen perayaan keberhasilan, kebanggaan, transisi fase hidup, dan tentunya momen untuk merefleksikan dan mensyukuri kebaikan sang Pencipta atas talenta dan fasilitas yang telah Dia berikan. Sehingga, kini kita termantapkan untuk berani mengambil peran nyata yang solutif dalam masyarakat.

ITB bukan hanya pimpinan-pimpinannya, bukan hanya dosen-dosennya, bukan hanya Bapak-Ibu yang bekerja di unit-unit ITB, tetapi kita juga, lulusan-lulusan ITB, dan calon adik-adik kita nantinya. Kita adalah ITB. Dan ITB tidak pernah berhenti belajar, selalu berpikiran terbuka untuk menemukan inovasi dan alternatif solusi baru.
Terima kasih Bapak Ibu tersayang, yang telah mendidik kami dari awal, menciptakan titik sentuh keluarga yang luar biasa, dan membuat kami bisa mencerna dunia dengan istimewa. Terima kasih Kakak, Adik, dan keluarga lainnya yang menjadi teman dan rekan dalam belajar, berkembang, dan membentuk karakter, visi, serta toleransi dalam berkehidupan.

Terima kasih kepada seluruh mentor dan guru yang memantapkan jati diri, pengenalan diri, dan memberikan ruang diskusi sebanyak-banyaknya sehingga kita bisa menemukan makna dari pengetahuan dan manfaat keberadaannya.

Kami dididik untuk mampu mengenal persoalan, menciptakan visi, serta mengidentifikasi tangga-tangga yang perlu diambil untuk menuntaskan persoalan tersebut. Kami dididik untuk mencintai masyarakat sebelum menjadi pandu kehidupan bersama yang lebih baik. Kami dilatih untuk berjuang dan saling menolong untuk mencapai kebaikan.

Terimakasih rekan-rekan yang tidak pernah letih berjuang bersama. Dengan semangat yang tinggi, kelakuan ajaib dan inspirasional, serta doa restu semua, mudah-mudahan menjadi energi kita untuk menjadi lulusan yang amanah dan bahagia. Mari kita ciptakan persaudaran atau fratérnité yang mampu saling menjaga untuk menginspirasi bangsa kita agar mampu bertransformasi menjadi bangsa yang benar-benar merdeka.
Terima kasih ITBku. Tempat ini akan selalu hidup dan menjadi wahana yang membentuk pola pikir kejuangan, keunggulan, kepeloporan, pengabdian sebagai karakter dasar ilmu pengetahuan. Terima kasih atas pelajaran bahwa pengetahuan meninggikan tidak hanya status kita di masyarakat tetapi juga tanggung jawab akan nilai tambah yang dihasilkan sebagai inovator sosial. Terima kasih atas penguatannya, komunitasnya, daya juangnya, karena kami mungkin tidak akan sekuat itu berjuang kalau hanya dididik biasa-biasa saja. Saya pasti kangen kalian semua.

Rekan-rekan wisudawan yang saya banggakan,

Kenali masyarakat dan hiduplah bersama mereka. Tumbuhlah dari dalam dan jadilah manfaat untuk mereka.

Jadilah inspirasi dunia.

Jumlah penduduk boleh bertambah, jumlah mahasiswa bisa bertambah, jumlah orang baik juga pastinya makin bertambah, tapi akan selalu ada satu Indonesia. Bukan kebetulan kita dilahirkan sebagai orang Indonesia.
Untuk Indonesia yang mandiri, untuk masyarakat Indonesia yang pandai bersyukur, mari kita berkolaborasi untuk dunia yang lebih baik.

Terima kasih banyak. Terima kasih atas semuanya. Ayo kita mulai dari Indonesia.

Salam Metal Anak Bangsa.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater..
MERDEKA!

Shana Fatina Sukarsono

Semoga kita menjadi inspirasi dunia..

Andra & The Backbone – Tak Ada Yang Bisa

Posted in Uncategorized by lequoaila on September 26, 2009

Saat ku pejamkan kedua mataku

Dan kubayangkan

Di sampingmu

Kurasakan slalu

Hangatnya pelukmu Itu

Dan ku genggam lembut

kedua tanganmu

Seakan takut kehilanganmu

Kuingin selalu hatimu untukku

[Reff]

Tak ada yang bisa menggantikan dirimu

Tak ada yang bisa membuat diriku

Jauh darimu…

[Reff]

Tak ada yang bisa menggantikan dirimu

Tak ada yang bisa menggantikan cintamu

Tak ada yang bisa menggantikan hatimu

Tak ada yang bisa membuat diriku

Jauh darimu…

ENEERRRRRGIIIIII

Posted in Uncategorized by lequoaila on September 23, 2009

BUZZZZZ UPPPP!

ahahaha, tiba-tiba saja kesetrum energi super besar yang bikin kepala jadi ga bisa tenang, tangan ga bisa berhenti nulis, dan mata ga mau merem..

aneh. si Super Energi lagi minjemin energi dan saatnya kita menggerakkan segenap energi untuk menggalang duplikasi energi yang makin besar lagi.

let’s energizeeeedd…. BUzzzzzzz!

So Close – Jon Mclaughlin

Posted in Uncategorized by lequoaila on September 19, 2009

You`re in my arms
And all the world is calm
The music playing on for only two
So close together
And when I`m with you
So close to feeling alive

A life goes by
Romantic dreams will stop
So I bid mine goodbye and never knew
So close was waiting, waiting here with you
And now forever I know
All that I wanted to hold you
So close

So close to reaching that famous happy end
Almost believing this was not pretend
And now you`re beside me and look how far we`ve come
So far we are so close

How could I face the faceless days
If I should lose you now?
We`re so close
To reaching that famous happy end
And almost believing this was not pretend
Let`s go on dreaming for we know we are
So close
So close
And still so far

dunia bergejolak kalau tiap orang bergerak sesuai panggilan jiwanya

Posted in Uncategorized by lequoaila on September 19, 2009

Seringkali kita merasa bahwa kita tidak cukup beruntung, tidak cukup cantik atau ganteng, tidak cukup pintar, dan semua ketidakcukupan lainnya. sering juga kita melihat bahwa rumput tetangga lebih hijau dari rumput kita sendiri. melihat bahwa kakak kita lebih beruntung dari diri kita sendiri. atau kenapa sih porsi nasi yang boleh dia makan lebih banyak daripada saya?

Pertanyaan berikutnya, apakah kita benar-benar tahu seberapa cantikkah kita dibutuhkan agar kita bisa bahagia? atau seberapa hijaukan rumput yang kita inginkan sebenarnya? begitupula halnya dengan profil kakak beruntung maupun jumlah nasi yang benar bisa membuat kita merasa cukup.

Manusia sering terjebak ke dalam kadar-kadar serta ‘bungkus’ yang membuat mereka lupa akan tujuan. kita fokus kepada persaingan, kompetisi, dan balapan untuk menjadi ‘yang ter-’ tanpa sadar apakah memang menjadi ‘yang ter-’ itu lah hal yang paling baik untuk kita. sebelum menjawab, tentunya jawaban tersebut tidak bisa terpisah dari kesatuan konsep akan tujuan si manusia untuk melakukan aktivitas yang mampu memberikan dia predikat ‘yang ter-’ itu. globalisasi pun membuat persaingan yang tadinya tahunan, bulanan, harian, dan kini terakselerasi ribuan kali lipat hingga per detik akibat fasilitas revolusi informasi. terus menerus saling mengakselerasi kecepatan dan berusaha meninggalkan kompetitor jauh di belakang. tapi, kenapa kita perlu berkompetisi kalau bisa tidak berkompetisi?

sebaik-baiknya manusia adalah yang paling baik akhlaknya..

sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi banyak orang..

Tidakkah kita bertanya-tanya untuk apakah kita diciptakan, dan peran apa yang kita mainkan dalam skenario dunia? Adapun, manusia diciptakan ke dunia dengan tujuan untuk beribadah dan menjadi khalifah (pemimpin). pernahkan kita bertanya beribadah seperti apa, dan pemimpin seperti apa yang dimaksud?

anggap saja dunia kita dihuni oleh 4 M jiwa penduduk, berarti seharusnya terdapat 4 M jiwa yang beribadah dan menjadi pemimpin. dengan demikian, seharusnya ibadah dan kepemimpinan tidak diwakili oleh sebagian kecil manusia saja, melainkan dilakukan oleh masing-masing individunya pada peran, fungsi, dan posisi yang tepat.

jikalau hidup adalah sebuah pertandingan atletik, tentunya kemenangan ditentukan dari siapakah orang yang paling cepat mencapai garis finish tanpa didiskualifikasi. tujuan berlari adalah agar menang, sehingga apapun cara metode dan persiapan yang perlu dilakukan adalah dalam rangka memperkuat otot-otot sehingga si atlet nantinya bisa mencapai garis finish paling cepat. seorang atlit lari dilatih untuk memiliki kapasitas paru-paru yang besar, otot-otot yang fleksibel, serta tungkai yang kuat. seorang atlit lari tidak akan dilatih untuk menendang bola dengan keras, karena dia tidak perlu mampu mencetak gol di pertandingan atletik. tidak pula akan dia dilatih bagaimana untuk memukul shuttle cock dengan smash kencang kerena dia tidak perlu memegang raket saat bertanding atletik.

selama ini, kita selalu diingatkan untuk selalu bekerja keras, tapi kita tidak diberi pemahaman kenapa kita harus bekerja keras, dan bekerja keras seperti apakah yang dimaksud. sekolah mengajarkan jangan membuang sampah sembarangan, tapi kita tidak tahu apa akibatnya kalau sampah dibuang sembarangan saat itu juga dan jumlah ketersediaan tempat sampah yang ada seringkali tidak diperhatikan. dan secara tidak sadar, menjadi terlalu sering mempersoalkan persaingan daripada mengulik metode yang possible untuk meraih tujuan yang diinginkan.

Manusia mungkin lupa bahwa dia diutus ke dunia untuk menunaikan tugas mulia, dimana tiap manusia memiliki peran spesifik yang hanya diketahui dan dapat dilihat oleh dirinya berdasarkan tanda-tanda semesta alam. kita adalah korelasi dan kerterkaitan satu sama lain yang kemudian membentuk jejaring super besar yang tentunya tidak dapat terlepas antar titiknya. Kita sering merasa takut, karena merasa kita tidak cukup kuat dan hebat untuk mengerjakan tugas yang dititipkan kepada kita. Kita sering merasa bahwa ada orang lain yang lebih mampu untuk mengerjakan hal tersebut dibanding diri kita, padahal kita jarang mencari tahu siapa diri kita sebenarnya. tanpa kita tahu siapa diri kita, kita tidak akan tahu apa tujuan istimewa yang menjadi alasan kenapa kita yang lahir ke dunia. Kita tidak tahu, sehingga kita tidak yakin.

Pertarungan internal tersebut semakin memanas ditambah singgungan pertarungan eksternal, dalam hal ini pergesekan lintas individu. ketidakyakinan internal berdampak kita terbelenggu dengan perasaan bahwa orang lain tidak akan mau mengerti diri kita sehingga kitalah yang harus berjuang agar tidak ditindas, sibuk bertahan dan melakukan pembenaran yang tidak benar-benar memahamkan alasan keberadaan kita. tidak mau kalah, harus habis-habisan. terus, dan habis-habisan. dan akhirnya kita lelah bertarung, merefleksikan diri, dan menemukan bahwa kita bukan atlit atletik, melainkan atlit renang dan seharusnya berada di kolam renang bukan lapangan atletik. kita terlanjur berlatih di area yang bukan milik kita. Keberagaman latar belakang keluarga, serta interaksi lingkungan menjadikannya manusia yang unik, tapi hal tersebut tidak mengurangi tujuan penciptaannya : beribadah dan khalifah.

Jika tiap penciptaan dilakukan dengan tujuan mulia, maka pada dasarnya semua manusia adalah baik. hanya saja mereka belum ingat dan mampu membaca tanda-tanda yang akan menuntunnya menujuNya.

Read those signs, listen to your heart, have faith, prepare and practice well, then take actions persistently to fulfil your destiny.

Play our part well, the world will follow

tidak pernah kurang berbagi

Posted in Uncategorized by lequoaila on September 19, 2009

kebaikan yang dilakukan secara konsisten oleh setiap individu dalam kehidupan bermasyarakat, berlingkungan, berdunia, dan bersemesta dimana setiap elemen paham akan peran dan fungsinya terhadap konfigurasi keterkaitan satu dengan lainnya, kemudian akan membentuk suatu keharmonisan dan keselarasan seluruh inti elemen menuju tujuan penciptaan

Ketika Anda mendapat satu kebaikan, balaslah dengan meneruskan kebaikan tersebut ke-minimal lebih dari satu- pihak lainnya.

Ketika Anda mendapat satu senyuman, balaslah dengan meneruskan senyuman tersebut ke-minimal lebih dari satu- pihak lainnya.

Ketika Anda mendapat satu kue, balaslah dengan meneruskan kue tersebut ke-minimal lebih dari satu- pihak lainnya.

tapi awas ntar jadi gendut! hihihi..

The thing is, we never know what we have and does it enough yet but share to others will not make us to loose anything. Instead of loosing, we will get a lot more. we will never know what will happen next or who will help us. The time, place, and how they help is His secret but He always know the best dramatical part to be happen. Mari berbagi kebahagiaan

selamat hari raya idul fitri 1 Syawal 1430 H

L’Indonésie sur La Vue d’Un Etudiant Indonésian en France

Posted in Uncategorized by lequoaila on September 2, 2009

A Notes by the great Mr. Ronald Nehemia M. Sinaga (sinaga_nehemia@yahoo.com)

Faire des études est une partie importante de notre vie. Je suis en France maintenant, j’ai obtenu ma licence en Indonésie et je vais continuer mes études. J’etudierai le génie électrique ici, mais, je ne veux pas apprendre seulement cela. J’espere que je pourrai apprendre les autres choses qui sont aussi importantes pour vivre sa vie.

Je suis en France pour 2ans, et je vais les utiliser pour explorer la France et la vie française. Je suis en France depuis un mois, la plupart du temps je suis resté à Strasbourg. J’ai fait beaucoup d’activités, j’ai appris la langue française la plupart, mais, j’ai fait aussi beaucoup de visites et j’ai acquis beaucoup de connaissance sur la France dans les domaines de la culture, de l’art, de la technologie, du transport, et plusieurs. J’ai appris un petit peu de l’Histoire de France. La Révolution de 1789 était très intéressante pour moi. Elle est une importante phase pour l’avenir de la France comme grand pays.

La Révolution française, a changé d’une monarchie cruel à une république. Le Roi et les nobles ont perdu leur pouvoir, par contre, tout le monde a eu les droits êgaux. Avant, la vie des gens ordinaires était très difficile parce que ils devaient payer beaucoup d’impôts aux nobles. Ils n’avaient pas la chance égale pour obtenir les positions dans le gouvernement ou dans l’armée.  Les gens étaient valués selon leur niveau socuale non selon leur capacité et leur labeur. Les gens n’avaient pas la chance égale pour vivre leur vie. Bien qu’elle ait pris beaucoup de sacrifices, elle a donné un éclaircissement à la vie de la France. Parce que là, les Français ont reçu un rêve commun, de liberté, d’égalité, et de fraternité. Ce réve encourage tout le monde a penser que chaque personne est importante avec sa propre distinction et personne n’a le droit de maitriser la vie d’un autre ; donc, tout le monde est égal. L’esprit de la Revolution a influencé beaucoup de personnes et je crois qu’elle est le moteur du développement de la France comme une grande nation.

L’Indonésie est une nation qui a beaucoup de resources naturelles, une culture unique et divers, et des ressources humaines capables. Mais, maintenant, après 64ans d’indépendence, elle n’est pas devenue comme une pays avancé. Elle est positionnée à la place 107 dans la liste des pays par produit intérieur bruit (PIB). Elle a beacoup de resources naturelles, mais, la majorité est extraite par des compagnies étrangères. Elle est très dépendante des autres pays, bien qu’elle ait beaucoup de potentiel. La dépendence fait mal. La majorité des Indonesiens n’ont pas de chance d’avoir de une bonne education, une bonne santé, et de realiser leur réve.

L’Indonesie était divisée en plusieurs royaumes, et après elle était une colonie de Pays Bays. D’habitude, les Indonésiens ont véçu sous les ordres d’autres. Donc, nous ne trouvons pas facile d’être indépendants, être créatifs, de croire dans notre capacité. Je crois que notre condition sont pareilles ayx conditions de la France avant La Revolution. Mais, nous devons apprendre de La Révolution de France. Les gens doivent partagé la quantité égale de connaissances, donc, comme en France, les gens peuvent savoir la verité. Quand on sait la vérité on peut faire le mieux. Apres, nous devons eliminer l’habitude d’envisager les autres comme des personnes inférieures, au contraire, nous devons les encourager, donc, ils peuvent réaliser leur réve. Enfin, les Indonésiens, nous devons éliminer le complexe d’infériorité. Nous sommes égaux avec les autres. Chaque personne est importante et tous ont leur propre capacité. Ayez votre réve, et collaborez !

Thx Nemi!

VOTE! Indonesia Berjaya!

Posted in Uncategorized by lequoaila on June 19, 2009

gkn gkn gkn!melestarikan kebudayaan dan alam anugerah Indonesia :)

tertawa hidup

Posted in Uncategorized by lequoaila on June 3, 2009

hahahahahahahahahahaha

hahahahahahahahahahaha

hahahahahahahahahahaha

hahahahahahahahahahaha

:D :D :D