secarik nagabonar
Hai pemuda Indonesia, bangkitlah kau semua.
Negeri kita sudah merdeka
Genderang perang sudah berbunyi
dengarkan panggilan ibu Pertiwi!
_bang Pohan
ini baru nagabonar.
inspiring. jadul, tapi inspiring.
mencintai bangsa bisa digambarkan dengan sangat sederhana.
sederhana tapi mengena.
buktinya:
siapa yang tidak tertawa?
siapa yang tidak sedih?
siapa yang tidak tersadar?
siapa yang tidak tergerak?
siapa yang tidak menjadi semakin mencintai Indonesia?
this movie is good. fully recommended.
geura-geura
apa itu geura-geura?
hmm..saya bukan orang sunda nih..
tapi, barusan, ada orang bilang bgitu ke saya lewat fasilitas YM.
yah, ayo,
geura-geura = buru-buru
hmm
naon teh, ‘buru-buru’ yg mana?
hahaha..bingung kan?
buru-buru belajar buat ujian
buru-buru bersiap
buru-buru bergerak
buru-buru berjuang buat masyarakat
yah..sepakat bro..harus buru-buru…
asal ga keburu-buru..
hehehehe
Apakah kita siap bergerak?
Pola pikir manusia terbentuk berdasarkan pengalaman atau harapan yang ingin dicapainya di masa depan. Mana yang lebih mudah, pengalaman atau melihat masa depan? Saya rasa secara tidak sadar kita akan menjawab opsi yang pertama. Manusia lebih mudah percaya dengan pengalamannya, maupun pengalaman orang lain, daripada masa depannya. Apakah kita tidak sadar, bahwa ada perbedaan yang tipis antara pengalaman, trauma, maupun kisah kejayaan. Dimana kadang manusia menghardik sesuatu hanya karena dia pernah mengalami kejadian buruk dengan hal tersebut, dan kemudian berjanji tidak akan pernah mengulangi proses tersebut lagi, dengan harapan tidak akan pernah mengalami emosi yang sama lagi. Nah, apa bedanya dengan trauma.
Sebaliknya, untuk pengalaman senang manusia cenderung ingin mengulanginya sehingga seringkali kita lihat bahwa pengalaman indah cukup untuk membuat seorang bertahan di suatu tempat. Dan proses pengulangan ini, apakah kekal selamanya? atau nantinya tiba di saat-saat jenuh.
Mari kita lihat sisi sebaliknya, untuk melihat masa depan, manusia pun terpatron dengan pengalaman-pengalaman orang yang pernah melakukannya. Selalu, sulit untuk keluar dari kotak. Perasaan khawatir, cemas, takut, atau semangat berlebihan menjadikan kita enggan dan memilih untuk tidak menerobos apapun.
Apakah saat ini kita mau bergerak? Saya yakin kita mampu. Tembok besar di depan bukanlah penghalang, melainkan bentuk pemastian apakah kita benar-benar ingin mendapat apa yang ada dibelakangnya. Tembok disana akan membuat orang yang tidak benar-benar menginginkannya menyerah dan pergi. Tapi tidak dengan kita. Kita pasti bisa. Karena kita mau dan berusaha untuk menjadi mampu.
*akhirnya…setelah sekian lama g nulis..hehe



