cinta fotografi
pertama tertarik memang dari cerita seorang teman yang mengambil ekstrakurikuler jurnalisme ala sma. ‘ikut aja shan…seru lho..’ yah, berawal dari ditantangin untuk ikutan ekskul serupa padahal ijazah lulus smp aja belum keluar, akhirnya tergeraklah salah satu motivasi untuk masuk si sma impian adalah untuk bergabung di ekskul tersebut.
cerita berlanjut, masuklah saya ke ekskul terkait. seru. belajar dasarnya berfotografi. tapi belum ada keinginan untuk mengeksplor jauh. ternyata foto begitu to..
berlanjutlah perjalanan penemuan jati diri fotografi di kampus. lagi-lagi, tertarik dan penasaran dengan sebuah unit yang memang menyuguhkan fotografi dengan sangat memikat. awalnya, terpikir palingan sama saja dengan sma, belajar fotografi sebatas dasar tanpa praktek. meski berasumsi demikian, tetap saja kekeuh mengikuti proses penerimaan anggota baru, dan jadilah saya salah satu kru.
dugaan ternyata salah, pendidikan foto yang didapat ternyata beyond my expectation! ajaibnya, benar-benar mendapat paradigma baru soal bagaimana berfotografi. mulai dari sesederhana konsep foto, framing, hingga bermacam jenis foto seperti pengagum manusia yang ditawarkan lewat human interest, serunya bikin studio-studioan untuk memfoto benda lewat still life, hingga sekedar menikmati keindahan alam dengan foto landscape.
yang benar-benar menggugah, adalah betapa besar makna fotografi.
konsep merekam kejadian lewat sebuah gambar.
intinya, selalu ada cerita dibalik sebuah foto. tanyakan saja kepada seorang fotografer mengenai cerita di balik fotonya. biasanya dia akan bercerita banyak, bisa dari cara dia mengambil fotonya, hingga beberapa pelajaran soal kehidupan.
mungkin kapan-kapan saya akan berbagi tentang cerita di balik foto-foto sendiri (hahaha, padahal masih amatir). sedih juga, karena sekarang malah jarang memproduksi, lebih banyak menikmati.
kenapa lebih memilih fotografi? karena gambar lebih berbicara banyak. karena interpretasi dari sesuatu yang diam, merangsang imajinasi kita untuk bekerja dan mencoba mereka-reka cerita di balik gambar.
imajinasi. interpretasi. kekuatan ide manusia dicoba untuk digali disana.
proses kreatif yang selalu seru untuk diikuti.
coba saja. ambil sebuah foto. coba telaah. kenapa sebuah foto keluarga bisa segitu bermakna dan menggantikan tidak hanya representatif visual anggota keluarga, melainkan juga atmosfer kehangatan di dalamnya. kenapa sebuah foto pegunungan denga rumput hijau bisa menggantikan perasaan damai dan sejuk. kenapa sebuah foto wisuda bisa kembali membangkitkan semangat untuk segera berkontribusi ke masyarakat setelah sekian lama mengemban ilmu.
semua terjadi karena setiap foto adalah pesan. setiap foto adalah energi yang ingin disalurkan kepada penontonnya. setiap foto adalah cerita.
late birthday wishes, and exam results

late birthday wishes, and exam results
Originally uploaded by _Neverletmego_
Cerita Pagi
Gw punya mimpi. Beberapa saat akhir ini, mimpi gw terusik. Kenapa? Karena seakan mimpi gw terlalu besar. Terlalu mengerikan untuk orang-orang di sekitar gw. I am an idealist. But I failed to take my friends with me. Prosesnya bikin sakit euy. Beberapa kali, gw merasa bahwa dunia segitu tidak adilnya. Gw merasa bahwa persiapan sudah dilakukan segitu besarnya, materi sudah dipikirkan segitu lamanya, dan pada pelaksanaannya pun jatuh bangunnya keterlaluan. The result: masih, hanya sebatas menjadi pewacanaan, mendobrak paradigma. Tapi mimpi gw ga terwujud apa-apa. Orang cuma ngambil keuntungan dari situ, dan gw ga bisa terima. Gw merasa bahwa orang tidak pernah mendengar. Mereka lambat, dan bodohnya mereka tidak mau mendengar. Mereka bisa mengakselerasi jika mendengar, tapi mereka memilih untuk tidak mendengar. Apa dulu Rasul seperti ini juga ya? Kenapa setiap menyuarakan sesuatu kebenaran yang baru, resistansinya begitu besar? Kita kadang tidak sadar bahwa kita menghancurkan diri sendiri, kaum sendiri secara perlahan. Leaders. Mana pemimpin yang kuat, punya prinsip, dan patut jadi teladan? Kenapa orang berlomba untuk mendapatkan posisi dan prestise, bukan prestasi? Dan bodohnya, masyarakat pun termakan dengan populisasi ini. Butuh artis, atau pemimpin? Bahkan sekarang rakyat pun memilih untuk mereka tidak bergerak kemana-mana. Kenapa harus bergerak perlahan, ketika semuanya mungkin terjadi dengan cepat? Kenapa harus memilih hal yang mudah, ketika hal yang lebih besar menanti di balik sesuatu yang menuntut usaha yang sedikit lebih besar?
Kepercayaan. Variabel kedua yang menjadi akar dari ‘kondisi’ masyarakat ini. Kita hidup di low trust society, dimana memang kepercayaan antar individu dan kelompok di sini menjadi sangat rendah. Curigaan. Tidak percayaan. Mulai dari yang terang-terangan bilang ‘tidak percaya’ sampai yang berlindung dibalik tameng kata ‘waspada’. Mungkin kita harus lebih jujur pada diri sendiri, sejauh mana sih kita percaya ke orang lain, dan sebesar apa kepercayaan yang diberikan. Mungkin kata kunci ini yang menjadi akar kenapa kita kadang tidak benar-benar ‘mendengarkan’. Survey membuktikan bahwa negara dengan low trust society seperti Indonesia memang sangat lambat perkembangannya, dibandingkan dengan negara high trust society seperti Jepang atau Amerika. Bisa diubahkah kondisi ini? Tinggal memilih. Mengubah bangsa menjadi tulus, atau memanfaatkan ‘ketidakpercayaan’ bangsa ini untuk memajukannya. Pilihan yang aneh.
Listen. The world is trying to sent you message. Listen.




5 comments